Masih hari ahad, 9 April 2023
Selama ini aku tidak peduli dan hanya "iya iya" saja saat disinggung masalah pasangan hidup. Hari ini aku mulai sedikit mengerti apa yang dirasakan teman-temanku ketika ditanya "Kapan nikah?" Atau "Calonnya mana?" Atau "Masih sendirian aja" atau "Ajak ayangnya dong..."
Mungkin aku tetap masih tidak peduli jika bukan tanteku yang bilang "Kamu udah ada calonnya belum?"
Aku: "Belum Cik"
Tante: "Carilah.., mumpung bicik masih bisa kemana-mana, mumpung bicik belum tua"
Aku: "Suruh Ari (my big bro) duluan aja Cik"
Tante: "Nggak apa-apa ngelangkahin juga"
Aku: ".........." (sambil menelan ludah)
Bukan hanya pembicaraan malam ini, beberapa hari lalu kakak sepupuku juga bilang begini "Kira-kira di Aqsyanna itu ada potensi jodoh kamu kah? Aku pede kamu lebih bisa cari jodoh di sana, daripada mengembangkan apa yang sekarang kamu tekuni".
Sebenarnya aku tidak terima dibilang seperti itu. Aku beneran mau serius loh di jalan dakwah ini, lah kok disuruh cari jodoh aja? Kesal sebenarnya, tapi ya sudahlah, tidak apa-apa.
Aku menuliskan ini karena pengen saja menulisnya. Bagiku kata "mencari jodoh" itu tetap terdengar lucu. Sebab aku merasa belum siap menikah, aku belum pantas, dan aku belum mau bergerak ke arah sana.
Rasa-rasanya aku ini masih berumur 15, belum boleh menikah. Menikah adalah urusan para om dan tanteku. Tapi nyatanya umurku sudah 25, ah terus bagaimana ya?? 😫