Senin, 27 Juli 2026

Pernahkan kamu bertemu seseorang? Yang begitu menarik perhatianmu, yang disambut baik oleh hatimu, dan yang menyalakan sesuatu di dalam dirimu. Lalu kamu tergerak untuk mencari tau tentang dia. Dan lalu, setelah kamu sedikit tau, tiba-tiba kamu berhenti.

Kamu menemukan bahwa dia tidak seperti yang hatimu harapkan. Dia melakukan sesuatu yang tak disukai Tuhanmu. Tidak ada yang bisa kamu usahakan untuk melanjutkan usahamu, jalan buntu. Kamu memaksa dirimu untuk berhenti. Berhenti di garis start.

Dan cerita ini, cerita cintamu yang gugur sebelum berkembang ini, membuat hatimu menangis sembari berbisik, nampaknya yang harus dilanjutkan adalah cerita penantian. Kamu menguatkan hati, berusaha sabar dengan waktu menunggumu yang terus diperpanjang. Jawaban itu belum akan datang sekarang. Bukan sekarang.
Dulu, saat temu kangen bersama teman-teman MIQA batch 4 di sebuah kafe yang dindingnya menyatu dengan dinding masjid, di daerah Bintaro. Aku mendapat giliran manjawab sebuah pertanyaan, pertanyaannya: "apa yang membuat kamu tertarik dan ilfill kepada seorang laki-laki?"

Jawabanku (dan sampai saat ini masih berlaku), yang bikin aku tertarik adalah suaranya. Dan yang bikin ilfill juga suaranya. Standar ganteng menurutku adalah suara. Bukan suara yang dibuat-buat seperti saat menyanyi atau saat mengisi acara, tapi suara asli. Suara standar yang digunakan sehari-hari untuk berbicara, mengobrol, dan sebagainya.

Aku suka suara-suara yang teduh. Suara yang membuatku betah berlama-lama mendengarkan apa saja yang keluar dari seseorang dengan suara itu. Suara yang membuatku memejamkan mata dengan perasaan aman dan tenang.

Selain suka suaranya, aku tentu juga suka dengan apa yang disuarakan, apa yang dibicarakan. Yang membuatku tertarik itu bukan sekedar suaranya, tapi apa yang ada di dalam kepala dan apa yang ada di dalam hatinya.

Tadi aku sudah mendengar suaranya. Oh God, tapi bagaimana ini?? Dan yasudah, Alhamdulillah bi nikmatihi, aku tidak mau membuat masalah di sini.
Dulu saat masih kecil dan belum sekolah, aku suka mengumpulkan bunga kopi yang jatuh gugur karena kena hujan deras atau kena angin. Bunga-bunga mungil warna putih itu ku cium-ciumi. Dulu aku berpura-pura seperti orang yang mencium bunga melati, yang katanya harum sekali dan warnanya putih seperti bunga kopi.

Aku suka bunga kopi yang gugur. Tapi ibuku sangat tidak suka melihat bunga kopi yang jatuh-jatuh dan gugur. Beliau bilang buah kopi tidak akan lebat jika bunganya banyak yang gugur. Dan beliau benar, memang begitulah adanya.

Malam ini aku merasa, akulah si bunga kopi yang gugur itu. Gugur karena hujan dan angin kehidupan. Tak sempat tumbuh menjadi putik, tak bisa menjadi buah, mustahil menjadi buah kopi yang merah mengkilap dan membuat ibu dan bapakku bahagia.

Tapi semoga ini hanya perasaanku saja. Aku bukan bunga kopi. Aku adalah manusia. Aku hamba Allah. Aku memang tidak tumbuh dengan baik, tapi ya Allah, sudah banyak sekali nikmat yang Engkau berikan. Maafkan hamba-Mu yang sering sekali lupa bersyukur ini. Maha Suci Engkau ya Rabbal alamin.
Sabtu, 25 Juli 2026

Kabar buruknya, aku patah hati malam ini. Kabar baiknya, aku punya hati.

Mungkin aku benar, saat dulu sudah lama berselang, saat aku mengatakan kepada seseorang, bahwa aku adalah pohon, dan pohon tidak bisa pergi kemana-mana. Dia tumbuh di tempat dia tumbuh. Dan mati jika mencoba pergi. Dia tidak bisa seperti burung yang bebas terbang ke manapun. Tidak seperti burung yang bisa membuat sarang di mana dia suka.

Malam ini aku tidak suka menjadi pohon. Aku sudah lelah menjadi pohon. Tapi rasanya aku akan mati jika aku pergi.
Jum'at, 24 Juli 2026

Aku menangis 4x hari ini dan aku sudah lupa alasan aku menangis yang ke-4. Aku lucu sekali, belakangan ini aku mudah sekali menangis. Alasan aku menangis yang ke-3 tadi adalah karena cerita sedih dari buku yang baru aku tamatkan.

Malam ini jadwal aku menelepon ibu, tapi  sepertinya aku lakukan besok saja. Sekarang aku sudah makan, sudah mandi, sudah sholat isya juga. Dan sekarang masih jam setengah sembilan malam. Sepertinya aku bisa langsung tidur kalau aku mau. 

Tapi buku yang baru ku baca 20 lembar sore tadi menarik sekali. Judulnya Human Kind, penulis Rutger Bregman. Dia punya teori yang bertentangan dengan banyak keyakinan umum. Aku akan membacanya sedikit lagi.
Setelah memandang kembali ke belakang, melihat potongan-potongan kenangan bersama teman-teman dan rekan-rekan, sepertinya benar bahwa aku terlalu keras kepada diriku sendiri. Sehingga aku juga keras kepada orang-orang.

Aku perlu belajar melenturkan otot-otot emosiku yang nampaknya terlalu ngotot. Perlu lebih banyak belajar berempati, belajar slowing down, belajar tenang, dan belajar zooming out. Meluaskan pandangan, meluaskan ketenangan, meluaskan kasih sayang.
Mungkin benar yang dituliskan Pak Faiz, bahwa tidak semua hal harus kita pahami. Beberapa hal hanya perlu ditanggung dan dijalani.

Seperti kata Dere, dunia ini tidak akan menarik lagi jika kita tau dan paham segala hal.
Rabu, 22 Juli 2026

Ayah dari seorang teman SD yang juga tetanggaku di Palembang, meninggal dunia kemaren sore. Ayah temanku ini seumuran dengan bapakku. Mungkin 1 atau 2 tahun lebih muda.

Sejujurnya hatiku jadi merinding dan diserang ketakutan. Aku takut sesuatu terjadi pada bapakku. Meski tak pernah ku tunjukkan, aku tetap sayang sekali pada beliau. Beliau adalah bapakku. Sekarang beliau sudah berusia 71 tahun.

Ya Allah, Engkau tentu lebih paham segala takut dan khawatirku, ya Rahman ya Rahim.
"para petarung terbesar di dunia bukan hanya orang-orang yang tidak mengenal rasa takut, melainkan juga orang-orang yang tidak bisa marah"

"kenapa ada orang yang ingin merasa sakit dan takut? supaya mereka bisa merasa hidup."

-kutipan dari sebuah buku-
Sabtu dini hari, 18 Juli 2026

Memang sebaiknya kebencian itu redam dan berhenti di kamu, Es. Tidak usah kamu teruskan dan sebarkan lagi ke orang-orang. Aku tau kamu ingin meledak, aku tau hatimu menggelegak, aku tau kamu ingin mengadukan betapa dia salah paham dan tanpa ba-bi-bu langsung menyerang dengan kata-kata yang harusnya tidak usah diucapkan.

Aku jadi ingat cerita Kang Rendi tentang tangannya yang terluka. Suatu saat, tangan Kang Rendi terluka oleh pisau. Luka yang cukup dalam, mengeluarkan banyak darah dan sampai nyeri berhari-hari. Lalu tangan beliau yang terluka itu tidak sengaja dipegang oleh anaknya yang belum ganap berumur 1 tahun.

Kang Rendi bilang, tak peduli seberapa lembut pegangan anaknya itu, tangan beliau tetap terasa sakit sekali. Sakit sekali. Tangan Kang Rendi tersakiti oleh pegangan anaknya. Padahal anak itu tidak ada maksud untuk menyakiti tangan Kang Rendi. Anak itu tidak ada niat menyusahkan Kang Rendi.

Maksud cerita ini, jika kita menyentuh (ataupun tak sengaja menyentuh) bagian seseorang yang sedang terluka, tak peduli selembut apapun cara kita menyentuhnya, dia akan tetap merasakan sakit. Dia akan tetap merasa diserang. Dia akan tetap masuk ke mode defensif. Dan jika dia tidak take a break dan mengambil napas, tentu saja dia akan langsung menyerangmu. Dengan kata-kata yang seharusnya tidak usah diucapkan.

Maka ambil sedikit jeda ya Esnida, take a break, bernapas dengan tenang, jernihkan dulu pikiranmu sebelum kamu membalas. Dan sebaiknya tidak dibalas. Redam dan hentikan di kamu. Damaikan kebencian itu di dalam hatimu yang semoga mulai luas dan tenang itu.
Jum'at, 17 Juli 2026

Tadi malam tanganku terkena ledakan minyak panas, tapi langsung aku siram dengan air mengalir. Memang sempat terasa sakit, panas, dan berdenyut-denyut selama sekitar 15 menit. Tapi sebelum tidur ku lihat tanganku tampak baik-baik saja. Tidak ada tanda-tanda melepuh dan tidak juga terlihat kulit terbakar.

Siang ini aku perhatikan lagi baik-baik tanganku. Karena ia terasa agak aneh dan asing sejak tadi subuh. Ternyata ada garis merah-keunguan yang menjalar di sepanjang jari tengah, lebarnya sekitar setengah centi. Ternyata kulitku terbakar juga, pantas saja tanganku agak aneh, rasanya dan gerakannya.

Tapi tanda terbakar ini cantik sekali, seperti guratan henna. Dalam hati aku berkata, kok bisa ya bentuk luka bakarnya seperti ini? Harusnya kan begini dan begini, karena semalam posisi tanganku seperti ini, dan bla bla bla. Aku jadi sering memandangi tanganku. Terkagum dengan bentuk lukanya.
Hati mungilku ini memang lucu sekali. Tadi siang ia berdegup kencang saat aku membaca kabar sebuah nama. Nama yang beberapa waktu belakangan ini menjadi sebuah tanda tanya. Hanya sepotong nama, tapi cukup powerfull untuk membuatku bersemangat seharian. Aku tersenyum melihat tingkah hatiku. Biarlah, aku bersyukur karena ada yang membuatnya gembira hari ini.
Kamis, 16 Juli 2026

Rupanya aku sudah melupakan pelajaran dari seorang teman yang kuliah jurusan psikologi itu. Dia 6 tahun lebih muda dariku, dia seumuran dengan adikku. Dan sekarang dia sudah hampir lulus kuliah.

Tiga atau empat tahun lalu dia bilang padaku untuk selalu menyediakan ruang kecewa sebanyak 20%, dan ruang berharap 80% di hatiku. Apapun itu, siapapun itu, bagaimanapun itu, pokoknya selalu sediakan ruang untuk kecewa 20%!

Aku benar-benar telah melupakan pelajaran itu. Sehingga dadaku terasa begitu sesak saat mengetahui bahwa ada seorang teman yang menjauh. Dia memilih pergi, tidak lagi berada di lingkaran ini, tidak lagi akan berjalan bersama. Tanpa ada diskusi dulu denganku, bahkan aku mengetahui kabar ini dari orang lain.

Aku kira kami akan selalu berjalan bersama selamanya. Bersama-sama melewati banyak musim, berhadapan dengan banyak wajah, belajar dan saling membahu bersama. Bahkan aku pun sudah siap memaafkan atau minta maaf jika suatu saat nanti kami bertengkar.

Tapi beginilah dunia. Banyak hal yang tidak aku tau. Apalagi hati manusia, mereka rumit sekali untuk dipahami. Iya, aku memang sangat kecewa atas kepergian dia. Tapi barangkali kecewaku ini adalah akibat ulahku sendiri. Yang terlalu berharap, sepenuhnya berharap, dan lupa menyisakan 20% ruang untuk kecewa.
Ahad, 12 Juli 2026

Di sepanjang jalan menuju kosan malam ini, aku merenungkan sesuatu. Tentang kenapa sih Allah menciptakan manusia yang tidak bisa langsung saling memahami?

Tadi aku mendengar cerita dari seseorang, dia menceritakan apa yang terjadi dan bagaimana situasi dia terhadap beberapa orang yang aku kenal. Aku juga pernah mendengar cerita tentang dia dari sudut pandang orang yang aku kenal itu. Aku mendapat 2 pov.

Dan, ya... pertanyaanku tetap satu. Kenapa mereka tidak bisa langsung saling memahami saja? Di mataku mereka sama-sama baik, tujuan mereka sama-sama bagus, nilai-nilai yang mereka perjuangkan sama-sama penting, cara mereka bersikap juga tidak ada yang salah jika dilihat dari sudut pandang mereka masing-masing. Seharusnya mereka bisa saling melengkapi, bisa saling mengajari. Tapi kenapa Allah ciptakan cara berpikir yang begitu berbeda sampai mereka bisa saling menyakiti?

Bukankah lebih mudah prosesnya kalau Allah ciptakan mereka bisa langsung saling memahami saja? Sehingga tidak perlu ada yang terluka, tidak perlu ada hati yang tersakiti, tidak perlu ada drama!

Ampuni kami ya Rabbi. Ampuni kami yang saling menyakiti karena saling tidak tau ini ya Allah. Kami belum paham, kami lemah, kami butuh banyak waktu dan kesempatan untuk menjadi hamba-hambaMu yang rahmatan lil alamin, kami butuh banyak ke-Maha Baiknya Engkau yang menanamkan pemahaman di hati kami. Tolong besarkan hati kami semua ya Allah, luaskan dan tentramkan. Maha suci Engkau ya Robbal alamin.
Masih Sabtu, 11 Juli 2026

Sore ini aku tau kalau ternyata aku masih vulnerable terhadap kritik dan saran. Tadi sebelum magrib, seseorang bilang padaku kalau aku harus belajar memisahkan antara sesuatu yang pantas dibahas di grup dengan sesuatu yang sekiranya tidak boleh dibahas di grup dan harus dibahas secara personal. Lalu aku bilang, kalau urusan itu adalah urusan komunitas, tidak boleh dibahas di grup juga? Dia bilang, ya.. urusan komunitas juga harus dibedakan antara yang umum dibahas di grup, dengan yang selayaknya harus dibahas secara pribadi.

Aku tau dia benar, aku tau aku membutuhkan saran itu. Karena aku memang sering blak-blakan membicarakan semua urusan komunitas itu di grup ataupun saat rapat. Semua aku sebutkan jelas, apa adanya, tanpa ada yang ditutup-tutupi. Tentu saja ini membuat beberapa orang tidak nyaman, karena terlalu blak-blakan.

Aku tau kritik saran itu baik untukku. Sudah disampaikan dengan cara yang baik, dan pada waktu yang baik pula. Tapi aku benar-benar kesulitan menerimanya. Tadi aku mendengar saran itu sambil gemetaran, untung tidak ada yg terlalu memperhatikan. Tidak ada yang sadar juga air mataku jatuh satu dua tetes.

Saat sholat magrib, tumpah lah air mata itu. Sejak takbiratul ikhrom sampai salam, dipenuhi air mata bercucuran. Aku membiarkan saja air mataku mengalir, tidak ku tahan-tahan. Aku membiarkan tubuhku memproses. Kalau memang masih ada trauma-trauma, memori-memori tidak baik tentang kritik, pengalaman-pengalaman pahit tentang kritik, atau luka-luka masa lalu yang disebabkan kritik, semoga semua mulai sembuh, tenang dan damai bersama derai air mata yang tadi tumpah.

Setelah sholat dan berdoa, aku berbisik pada hatiku, "wahai hatiku, kita sudah tidak perlu khawatir. Kita tidak harus menangis jika dikritik secara personal, kita tidak perlu takut dikomentari kepribadiannya. Kita sudah dewasa, memang ada hal-hal baik yang harus kita dapat dari cara yg tidak nyaman. Dan ada aku yang bisa melindungimu. Kamu tidak perlu takut wahai hatiku. Ada aku. Mari hidup sebagai seorang dewasa yang damai, tenang, yang luas hatinya, tegar jiwanya".
Sabtu, 11 Juli 2026

Tadi aku melihat 3 anak kambing sedang bermain-main. berkejar-kejaran dan melompat-lompat dengan riang gembira. Hatiku ikut senang dan mengembang seperti bunga-bunga yang bermekaran. Aku bersyukur bisa melihat dan terhibur oleh anak-anak kambing itu.

Lalu aku berpikir, bagaimana caranya menjadi riang gembira seperti 3 kambing itu? Agar Allah tersenyum senang melihatku, seperti aku yang tersenyum senang melihat anak-anak kambing itu.
Rabu, 8 Juli 2026

Malam sebelum tidur,
tiba-tiba aku teringat saat acara tukar kado beberapa bulan lalu. Hatiku sedikit layu, sebab menurutku saat itu, kado yang aku dapat bukanlah kado yang istimewa. Sedangkan aku sendiri mempersiapkan dan memberikan kado terbaik. Aku senang menyiapkannya, meski aku tidak tau siapa yang akan mendapatkan kado itu.

Jujur saja, aku ingin acara tukar kado itu diulang. Karena aku merasa acara itu agak tidak adil, karena apa yang aku dapat dibandingkan dengan apa yang aku berikan. Tapi ya sudah, Alhamdulillah. Saat itu aku menghibur diri dengan, sepertinya memang benda ini yang sedang aku butuhkan. Allah selalu memberikan yang terbaik untukku, pasti yang terbaik. Aku saja yang belum mengerti di mana letak baiknya? Di mana letak terbaiknya? Tetap Alhamdulillah pokoknya.

Malam ini aku memahami bahwa apa yang kita terima tidak selamanya menggambarkan siapa kita. Yang menggambarkan siapa kita sesungguhnya adalah apa yang kita berikan, apa yang kita lakukan. Aku jadi tau bahwa aku cukup baik, cukup cantik, cukup berharga. Seperti apa yang aku lakukan, seperti apa yang aku usahakan, seperti apa yang selalu aku berikan kepada orang-orang.

Kesadaran dan rasa ini sungguh menghangatkan hatiku. Aku bahagia karena kesadaran ini. Rasa yang sangat berharga. Aku merasa Allah yang mengatakannya padaku. Bahwa aku adalah apa yang aku berikan, aku adalah apa yang aku usahakan, aku adalah apa yang aku lakukan. Pernyataan ini terasa benar sekali, tak terbantahkan.

Dan pada akhirnya, ya.. aku benar, bahwa Allah selalu memberikan yang terbaik untukku. Aku saja yang belum bisa melihat, belum mengerti di mana letak terbaiknya. Selalu saja begitu, aku sudah hafal. Dan aku akan mengingat-ingat terus, saat aku kecewa pada sesuatu lagi nanti, aku akan berbisik pada hatiku bahwa, "Allah selalu memberikan yang terbaik, nanti kamu juga paham di mana letak terbaiknya"
Oh damn! Apa yang sebenarnya sedang aku rasakan? Hidupku baik-baik saja, tapi saat ini (tepat saat ini, malam ini, setelah aku makan) rasanya seperti ada sekantong besar kelereng yang tergantung di dadaku, berat dan menyesakkan. Kemudian kantong itu pecah dan semua kelerengnya jatuh berhamburan ke semua penjuru. Aku bingung. Kelereng-kelereng itu menggelinding ke segala arah. Yang mana yang harus aku kejar lebih dulu?

Rasanya seperti ingin melakukan sesuatu, tapi apa?? 

Hatiku ingin berteriak begini:
"aduh bagaimana ini???"
"oh please, I can't do this alone"
"someone, please come"
"help..."
Senin, 6 Juli 2026

Beberapa hari/pekan belakangan ini, ada yang berbeda dengan cara aku merasa. Aku terpantau lebih sensitif dan emosional. Bisa merasakan banyak hal dengan sangat jelas dan dalam. Entah ini sebenarnya adalah kondisi normal untuk semua orang (karena selama ini aku lumayan cuek, berbeda dengan orang-orang) atau memang aku sedang sangat sensitif.

Aku merasa kecewa kepada temanku yang banyak menolak. Padahal selama ini biasa saja. Aku tidak merasakan apa-apa jika teman menolak ajakanku, atau ajakan meet komunitas, atau saat dia beralasan tidak mau menghadiri sesuatu. Tapi sekarang aku bisa merasakan, bisa melihat dengan jelas bahwa orang yang banyak menolak sesuatu yang ditawarkan kepada dia adalah orang yang menyebalkan dan tidak menarik. Hampir sama tidak menariknya dengan orang yang banyak alasan dan sering mengeluh.

Wait, apakah seperti itu aku di mata teman-temanku selama ini? Karena aku juga sering sekali menolak ajakan, sering juga berpura-pura tidak tau kalau ada sesuatu maksud yang ingin disampaikan kepadaku. Ah iya, mungkin saja. Tapi ya sudahlah. Memangnya kenapa kalau aku tidak menarik di mata orang lain? Selama aku tidak mati dan orang-orang tidak mati, ya sudah. Ingat, ini dunia. Tempatnya banyak hal cacat dan salah. Ya sudah.

Well mungkin aku sebaiknya mengkoreksi diri juga. Karena seorang Muslim itu sebaiknya menarik. Tidak menyebalkan, tidak egois, dan peduli dengan perasaan dan kenyamanan orang lain juga. Aku jadi ingat sebuah quotes, entah dari siapa, bunyinya kira-kira seperti ini:

"Nyaman itu adalah ketika kamu nyaman dan orang-orang di sekitarmu juga nyaman. Kalau nyaman sendiri itu namanya egois."
Ahad, 5 Juli 2026

Aku melihat seseorang tadi pagi. Saat dia datang, sekitar pukul 9 pagi, aku sedang mengerjakan tugasku di dapur berkah Aqsyanna. Oh iya, hari ini aku kembali membantu dapur berkah. Pertama karena hari ini kurang personil ibu-ibu, kedua karena pengen aja. Sudah 2 tahun lebih aku tidak membantu dapur berkah.

Hari ini kami memasak lebih sedikit dari biasanya, hanya 600 porsi. "Hanya" katanya. Biasanya 700an porsi. Seingat ku, dulu saat dapur berkah baru dirintis, kami hanya memasak untuk sekitar 200-300 porsi. Sekarang sudah berlipat ya jumlah porsinya.

Saat aku sedang mengerjakan tugasku itu, dia datang. Mengendarai motor berwarna hitam-merah, helm full face, dia melihat ke arahku saat melewati ku. Setelah turun dari motor, dia langsung pergi ke arah archery range. Aku tidak sempat melihat wajahnya, dan aku tidak kenal perawakannya. Aku tidak tau dia siapa.

Tapi hati kecilku yang lucu ini, tiba-tiba berharap bahwa itu adalah dia. Dia yang 3 pekan lalu ku liat berada di Aqsyanna. Dia yang ku tulis sebagai "bukan tipe orang yang ramah, dan yang tidak banyak bicara". Sungguh-sungguh berharap sosok yang hanya ku lihat punggungnya tadi itu adalah dia.

Aku jadi sering-sering menoleh ke motor yang tadi diparkirnya. Sampai siang aku lakukan itu di sela-sela urusan dapur berkah. Tapi dia tak kunjung menghampiri motornya, sampai azan zuhur berkumandang, sampai lama sekali aku menunggu. Aku ingin memastikan, apakah itu benar dia, atau orang lain yang tidak ku kenal.

Tapi ya karena mengerjakan tugas di dapur berkah, tiba-tiba saja motor itu sudah tidak ada. Sosok itu sudah pergi. Ah aku jadi sangat penasaran sampai malam-malam begini. Padahal aku cuma mau tau saja, tadi itu dia atau siapa?
Kenapa aku merasa bahwa aku harus memberikan penjelasan kepada orang-orang untuk setiap keputusan dan pilihan yang aku ambil? Seolah-olah mereka harus mengerti kenapa aku melakukan sesuatu. Seolah-olah mereka harus tau semua alasan-alasan atas apapun yang aku kerjakan.

Sering sekali aku berlatih di dalam hati, untuk menjelaskan kepada orang-orang, kenapa aku begini dan kenapa aku begitu. Seolah mereka selalu memperhatikanku, selalu akan bertanya dan menuntut penjelasan atas semua tindakan-tindakanku.

Ini cukup membebani. Dan ini yang sering menjadi alasan kenapa aku tidak mau melakukan banyak hal. Aku takut ditanya. Khawatir ditanya. Khawatir tidak bisa menjelaskan. Khawatir alasannya tidak cukup keren. Khawatir dikomentari. Khawatir diremehkan. Khawatir menjadi omongan. Khawatir ditertawakan. Takut dibentak. Takut disalahkan. Takut menjadi beban orang.

Ah iya, aku baru ingat kalau dari kecil aku sering di-bully. Oleh keluargaku. Mereka semua mungkin hanya bercanda, atau mungkin juga mereka memang tidak tau caranya mendidik yang benar. Dan semuanya wajar, aku pun paham. Mereka tidak tau. Karena tidak belajar. Karena tidak mendapat kesempatan belajar, tidak ada yang mengajari. Mungkin aku pun akan sama seperti mereka jika mereka tidak memberiku kesempatan untuk belajar. Mereka hebat, karena mereka menyuruhku belajar. Dan sekarang aku tau, dan sekarang aku paham.

Mereka salah, iya. Tapi mereka tetap keluargaku. Aku mengerti kenapa mereka begitu. Aku ikhlas ya Allah. Dan ya Allah, tolong hapuskan lah semua luka dan semua rasa sakit yang disebabkan oleh perlakuan kurang tepat dari keluargaku ketika aku kecil. Mereka sayang padaku ya Rabb, mereka tidak bermaksud jahat, mereka hanya tidak tau. Tolong sembuhkan aku ya Allah, ya Illahi Rabbi. Maafkan aku, maafkan keluargaku, maafkan dan ampuni kami semua ya Allah. Kami begitu lemah, lengah, lalai dan tak berdaya. 

Ya Allah, aku tidak menyalahkan siapapun, tidak juga menyalahkan diriku, tidak menyalahkan apapun, karena aku tau semua ini adalah kehendak-Mu. Aku terima ya Allah, dan Alhamdulillah. Dan maafkan aku ya Rabb, karena telah banyak juga aku menyakiti hati hamba-hamba-Mu yang lain karena aku terbentuk seperti ini. Ya Allah tolong ubah aku menjadi hamba-Mu yang sebenar-benarnya. 

Ya Illahi, aku tidak mau hidup dengan beban ini. Aku tidak mau terus-terusan harus waspada untuk menjelaskan semua hal yang sebenarnya hanya ada di pikiranku saja. Tolong hapuskan semua perasaan-perasaan takut dan khawatir yang tidak perlu itu ya Allah. Aku ingin bebas, dan menjadi seseorang yang tenang untuk melakukan segala sesuatu yang baik dan bermanfaat untuk hidupku, untuk orang-orang di sekitarku, untuk-Mu ya Rabb. Hidupku untuk-Mu ya Rabbi. Tolong bantu aku.

Terima kasih ya Allah. Segala puji bagi-Mu, Tuhan semesta alam.
Jum'at sore, 3 Juli 2026

Sekarang aku benar-benar pengangguran, tapi aku baru saja memberi hadiah untuk seorang teman yang dulu pernah satu komunitas. Sepertinya dia baru selesai sidang skripsi sore ini, tadi aku melihat status WA-nya.

Hidup rasanya sudah begitu serius.. aku lupa.
Aku lupa kalau aku lebih suka membaca buku cetak daripada ebook. Aku baru membeli 6 buku yang sudah lama ingin aku baca langsung. 1 di antaranya adalah buku yang sudah beberapa kali aku baca. Aku mau membacanya lagi.

Aku lupa.
Aku lupa kalau aku suka mendengarkan lagu-lagu yang ada di playlist Youtube-ku. Kemarin aku kembali memutarnya, dan men-download 1 lagu yang hari ini sudah ku putar puluhan kali sejak tadi siang. Ini lagunya 🎧everyone is lonely

Aku lupa kalau aku suka menulis blog. Ku lihat postingan terakhir di blog ternyata sudah hampir 4 tahun tidak di-update. Mungkin aku akan aktif menulis blog lagi, entahlah.. mulai besok mungkin.. besok besok.

Aku lupa kalau aku sangat suka kucing. Orang Aqsyanna banyak yang bilang aku suka anak kecil, hah, mereka tidak tau saja kalau sebenarnya aku sering menggendong dan bermain bersama anak kecil itu karena pada dasarnya aku suka kucing. Bermain bersama anak kecil itu tidak jauh beda rasanya dengan bermain bersama kucing. Ternyata sudah 4 tahun juga sejak Si Gendut Joingki mati keracunan. Aku kembali ingat hari yang membuatku sangat bingung itu.

suatu sore bersama Joingki

Aku lupa kalau setiap awal tahun aku selalu menonton ulang serial animasi Avatar the Legend of Aang. Mungkin sudah 2 atau 3 tahun belakangan ini aku tidak lagi menonton ulang. Tadi aku baru tau kalau sekarang sudah ada versi live actionnya. Apa sebagus versi animasi? Aku berharap karakter uncle Iroh tidak mengecewakan. He is my favorite!

Aku juga lupa kalau aku suka berjalan-jalan di taman. Sekedar duduk-duduk sambil membaca buku, melihat-lihat tanaman di toko tanaman hias, atau sekedar berjalan-jalan sambil berkomentar di dalam hati tentang daun-daun, tentang dahan, tanah, batu-batu, air dan becekan, dan apa saja yang terlihat di depan mata. Taman yg sejauh ini paling aku suka adalah Taman Kota 2 BSD. Mungkin sudah 3 tahun lebih aku tidak ke sana, dulu aku mengunjungi taman itu 1x seminggu.

Aku juga lupa kalau aku suka berenang. Dulu sebelum covid, aku berenang setiap senin. Aku bisa berenang 1 jam. Benar-benar berenang, bukan bermain-main air seperti teman-temanku yang katanya berenang. Sudah 6 tahun lebih aku tidak berenang.

Aku juga lupa kalau aku suka hujan-hujanan. Dulu aku sering sekali sengaja keluar ketika hujan. Mengendarai motor tanpa tujuan, yang penting sambil hujan-hujanan. Pulang sembunyi-sembunyi lewat pintu belakang, basah kuyup, menggigil. Setelah itu mandi, lalu masak mie instan, kuah pedas dengan pakcoy, jamur kuping, sepasang sayap ayam, tambahkan sedikit garam. Atau mie goreng pedas dengan 2 genggam toge dan sayap ayam. Minumnya es teh tubruk yang direbus sampai mendidih lama.

Aku juga lupa kalau aku suka tanam-menanam. Dulu aku punya banyak sekali tanaman di kamarku. Sampai-sampai aku bingung harus ditaruh di sudut mana lagi, harus dikaitkan di mana lagi. kebanyakan adalah jenis kaktus-kaktusan dan tanaman low maintenance lainnya. Tapi dulu aku juga sempat menanam cabai, tomat, pakcoy, dan kangkung kalau tidak salah.

Aku juga lupa kalau aku suka senam. Dulu aku bangga sekali dengan gerakan-gerakan yang aku lakukan. Bahkan ponakan-ponakan pun aku ajak ikut senam di kamar. Aku lupa sekali.

Sekarang aku pengangguran. Belum tau mau bagaimana ke depannya. Tapi aku juga senang sekali hari ini. Aku baru membeli Al-Qur'an. Ukuran A6 dengan resleting dan cover berwarna hijau tosca. Alqur'an ke-2 yang aku beli sendiri. Dulu aku membeli Al-Qur'an pink itu saat masih SMA, aku ingat harganya 100 ribu. Pas 100 ribu. Di Gramedia Padjajaran. Sekarang aku punya 3 Al-Qur'an. Al-Qur'an pink itu, Al-Qur'an A5 yang dihadiahi oleh Oby dan Ami, dan Al-Qur'an tosca A6.
Seorang teman mengatakan bahwa aku ini tidak merayakan. Banyak hal dalam hidupku yang sebenarnya bisa dirayakan, tapi tidak ku rayakan. "Coba lihat orang-orang di sekeliling, mereka semua merayakan, kecil apalagi besar, selalu dirayakan. Kamu? Besar saja tidak dirayakan apalagi kecil".

Sebenarnya aku tidak terima dengan kata-kata yang menusuk-nusuk itu. Tapi dia benar juga. Dan mungkin karena aku terlalu banyak mengeluh. Berkata bahwa hidupku begini-begini saja, berkata bahwa aku tak pernah ke mana-mana, berkata bahwa aku tak pernah melakukan apa-apa.

Ya, dia benar. Aku harus sadar.

Malam ini aku merasa takut tak bisa merayakan orang-orang yang dekat denganku. Takut tidak peka dan tidak mengerti mengapa sesuatu patut dirayakan. Takut mereka tak mengajakku merayakan sesuatu. Saat ini aku memang sering sekali tidak diajak. Oh bukan bukan, bukan tidak diajak sama sekali. Mereka lelah mengajakku karena aku yang sering menolak.

Benar, aku harus banyak bergerak. Aku tidak boleh banyak menolak. Kemageranku ini memang harus dilawan. Ah tapi bagaimana caranya? Aku benar-benar lebih suka berdiam diri di rumah daripada lelah menjelajah ke mana-mana. Apa sih yang mereka suka dari berlelah-lelah seperti itu?
Akan tiba waktunya ketika kamu terdiam, tak dapat berkata-kata, ketika segalanya tiba-tiba menghilang dari pikiranmu, yang ada hanyalah rasa syukur yang begitu dalam.

Ketika Allah membuka dan menunjukkan buah dari kesabaran dan ketaatanmu, ketika Allah meletakkan kamu pada posisi yang bahkan kamu pun tak berani memintanya dalam doa.

Akan tiba waktunya. Akan tiba waktunya.
"Sedikit lagi, tahan, sebentar lagi, tahan, jalan terus, fokus, jangan oleng, jangan pingsan, 200 meter lagi, sedikit lagi, lihat ke depan, lihat jalan, tidak apa-apa pelan-pelan, terus, lihat ke depan.. sedikit lagi.."

inilah yang aku katakan pada diriku sendiri sekitar 1 jam lalu. Saat tiba-tiba kepalaku terasa berat, perutku mual, semua terasa dingin sekali, wajah dan leher mulai berkeringat dingin. Aku panik, apa yang terjadi?

Beberapa kali aku mengambil jeda untuk berhenti jalan dan jongkok di trotoar. Aku tidak tahan. Seperti akan pingsan, tapi aduh, aku tidak boleh pingsan di sini. Ini sudah malam, dan jarang ada orang. Di trotoar juga gelap. Pokoknya harus bertahan! Tidak boleh pingsan!

Sampai di kosan aku langsung tiduran. Rasanya lemas sekali. Atur napas, berbaring yang nyaman. Kita sudah aman, mau pingsan pun silakan. Mau pingsan sampai besok pagi pun yaudah. Aku tidak harus sholat isya karena sedang haid.
Selasa, 23 Juni 2026

Aku mendengar pembicaraan 2 orang di reels saat aku membuka Instagram siang ini. Tentang hyper independent, mereka bilang kalau terlalu mandiri itu berbahaya. Tidak membiarkan orang lain membantu dan tidak meminta bantuan adalah sesuatu perlu diwaspadai karena hal itu sudah tidak manusiawi.

Ya.. benar juga kata mereka. Mungkin kita harus terlihat lebih manusiawi, membiarkan orang lain membantu walaupun kita tidak benar-benar membutuhkannya. Agar mereka merasa berguna.

Aku menulis ini dengan segepok kemarahan yang tiba-tiba muncul, dan sekaligus meneteskan air mata. Hatiku berteriak seperti ini: "Kenapa tidak dari dulu orang-orang datang membantu?? Kenapa mereka semua tidak ada di saat aku paling membutuhkan bantuan?? Dan sekarang setelah semua terlewati, saat keadaan sudah aman, mereka bilang terlalu mandiri itu berbahaya??!! Aku tidak mau jadi mandiri, aku tidak mau jadi kuat, aku tidak mau jadi kejam, tapi ya maaf! Aku begini karena aahhh!!! 

tapi kalian semua tenang saja. Tidak selamanya aku keras seperti ini. Aku juga tau bagaimana seorang muslim itu seharusnya. Akan ku coba untuk melembutkan hatiku. Akan ku coba untuk menjadikan diriku versi yang terbaik, menjadi rahmatan lil alamin".
Sabtu, 20 Juni 2026

Aku yang mudah lupa ini juga sering sekali lupa mengabadikan momen-momen hidup dalam bentuk foto atau video. Wajar kalau aku kesusahan mengingat banyak memori tentangku dalam banyak kesempatan.

Malah, nampaknya teman-temanku lebih ingat apa yang aku alami/lakukan dibanding diriku sendiri. Ini bukan sembarang klaim, tapi berdasarkan adu ingatan yang sering terjadi bersama teman-teman, dan akulah yang sering kalah.

Dulu aku berdalih, bahwa aku hanya mengingat yang penting-penting saja. Yang nggak penting ngapain diingat? Tapi setelah dipikir-pikir lagi, yang ku ingat ternyata semua yang menyakitkan dan sedih-sedih saja. Banyak sekali memori-memori bahagia dan penting, yang harusnya aku ingat, tapi ya begitulah..

Malam ini dalam perjalanan 7 menit menuju kosan, aku kembali merasa kesepian. Dadaku terasa sesak dan sekaligus terasa kosong. Aku merasa hari ini harusnya belum berakhir. Masih banyak hal yang ingin aku lakukan, tapi ini sudah malam. Semua orang sudah pulang.

Ku bawa pulang rasa sepi ini dan yasudah, semoga segera hilang setelah aku mandi, atau setelah aku bersihkan semua sudut kosan, atau setelah ku bawa tidur, atau paling tidak berkurang sedikit setelah aku menuliskannya,

Ampuni hamba-Mu yang lemah ini ya Rabb. Tolong jadikanlah aku pandai bersyukur. Terima kasih ya Allah, segala puji bagi-Mu, maafkan aku.
Jum'at, 19 Juni 2026

Ternyata "kamu bisa saja punya banyak teman dan sekaligus merasa kesepian" itu benar. Banyak teman, bisa nyambung ke siapa aja, bisa menikmati kesendirian, tetap tak menjamin kita terbebas dari rasa kesepian. Pun (mungkin) ketika kita punya pasangan, kita masih bisa diserang kesepian.

Aku belajar bahwa kesepian adalah keadaan. Dan semua keadaan bisa berubah, bisa diubah. Bisa kita pancing-pancing dan reka-reka agar terjadi, bisa juga langsung kita akhiri dengan berbagai cara. Atau, bisa juga kita nikmati sampai hati kita layu dan mati.
Kamis malam, 18 Juni 2026

Di suatu titik di bawah langit Ciputat. Aku teringat seorang teman, yang kalau dipikir-pikir, dia itu sedang menjalani hidup di fase apa ya?

Dia suka menulis, tulisannya bagus-bagus dan cantik. Menyentuh dan menasehati dengan cara yang baik. Kalau aku tidak kenal orangnya langsung, aku pasti mengira dia orangnya sungguh lembut, sabar, keibuan, baik hati, dan penyayang.

Dia memang baik hati dan penyayang, tapi dia agak berbeda dari tipikal orang yang baik hati dan penyayang lainnya. Dia lebih banyak tidak tenangnya. Sering grasak-grusuk, lebih tidak sabaran, dan agak sulit mendengarkan. 

Beberapa kali aku melihat dia diam dan tenang, tapi kemudian dia kembali in a rush. Seperti diburu-buru sesuatu, seperti dikejar-kejar sesuatu, seperti diawasi sesuatu. Kadang aku melihat dia seperti tertekan, kadang seperti lepas kontrol, kadang ya.. sulit juga dibaca.

Dia sangat suka menolong, malah ku lihat dia lebih sering berkorban. Dia anak yang berbakti kepada orang tuanya, dan dia sangat menyayangi keluarganya. Aku pun sayang kepada dia, dan kurasa, kalau aku bisa bertanya kepada pohon alpukat di depan kosanku, pohon itu pun juga akan menjawab, dia juga sayang padanya.

Aku tidak tau apa yang sebenarnya terjadi di dalam dirinya. Tapi aku sungguh berharap dia bisa menjadi versi terbaiknya. Menjadi hamba yang rahmatan lil alamin. Dunia ini membutuhkan banyak orang baik seperti dia agar tetap indah untuk ditinggali.
Ahad, 14 Juni 2026

🥇lomba cerdas cermat MIQA Olympic 2026

Ada banyak hal yang memang harus dimulai dengan keberanian. Berani mengalahkan ego, berani melawan bisikan-bisikan negatif yang semakin lantang dan semakin ingin membenamkan ketika diri ini mencoba berenang ke permukaan.

Dan ternyata, aku bisa loh, atas izin Allah tentu saja. Semangat Esnida, tidak selamanya kita kalah. Ini buktinya. Akan selalu ada menang dan kalah. Kamu memang sering kalah, tapi ayolah, kamu lupa kalau kamu juga pernah menang. Bersyukurlah sayang. Alhamdulillah.

Ku tulis dan ku pajang foto ini agar kamu tidak lupa. Kita pernah menang juga.
Sabtu, 13 Juni 2026

Dia ada di sini hari ini. Beberapa kali aku berjalan melewatinya, ku lihat dia selalu sibuk sekali mengerjakan tugasnya. Ku rasa dia bukan orang yang ramah, bukan tipe yang suka bersosialisasi, tidak banyak tingkah, dan dia juga tidak berisik seperti yang lain.

Dia mengingatkanku pada seseorang. Pada sosok yang bertalenta, tapi diam. Sosok yang menanggung beban, sosok yang punya impian, sosok yang mencari ketenangan, dan sosok yang berjalan sendirian.

Ah, ini pikiranku saja. Tentu kita tidak bisa mengenal seseorang hanya dengan menerka berdasarkan memori yang kita punya. Dan, benar. Aku sama sekali tidak mengenal dia. Aku hanya tau nama dan wajahnya saja. Bahkan aku tak tau warna suaranya seperti apa.

Aku belum pernah mendengar suaranya. Aku tak tau isi kepalanya, juga tidak tau ke arah mana dia melangkah. Tidak tau dia mengambil jalan yang mana dan seperti apa. Haha, aku ini aneh sekali. Menulis sesuatu, tentang seseorang, yang bahkan tak mau mencoba mengenalku. Sejujurnya aku ingin mengenal dia, tapi tak ada momen yang mengharuskan kami saling menyapa.

Ya sudahlah. Redalah hati, redalah rasa. Mungkin ini hanya perasaan kita saja. Mungkin dia juga bukan orangnya. 
Jumat, 12 Juni 2026

Besok aku akan ke Aqsyanna. Langsung teringat di benakku apa yang aku obrolkan bersama beberapa orang teman minggu lalu. Kami membicarakan banyak hal, tapi yang aku pikirkan saat ini adalah tentang aku yang katanya terlalu keras dan membentengi diri.

Obrolan tentang, mungkin akan ada seorang laki-laki yang datang kepadaku kalau aku melunak sedikit, kalau aku lebih lembut sedikit, kalau aku lebih kalem, lebih santai, lebih tenang. 

Jujur, aku ingin sekali bisa seperti itu. Dan bukannya aku tidak berusaha, tapi aku belum mampu saja berada di titik itu. Saat ini yang lebih penting adalah menjaga agar aku kuat, tak mudah goyah, tak mudah patah, tak mudah hanyut, tak mudah dibodohi. Ya untuk keselamatan diriku sendiri, agar aku bisa bertahan, agar aku tidak terombang-ambing menyia-nyiakan diri.

Baiklah wahai diriku, aku paham keadaanmu. Pertahankan, kita sudah berada di jalan yang benar, in syaa Allah. Dan semoga akan datang titik yang mengubah diri kita menjadi lebih baik lagi, lebih lembut, lebih santai, dan lebih tenang. Aku yakin kita akan sampai pada titik itu, entah bagaimana caranya.

Tiba-tiba aku teringat dengan apa yang aku katakan kepada seorang teman saat dulu ikut piket sedekah sampah. Tentang kata gentle, gentleman. Aku bilang bahwa gentleman itu seperti kasur di hotel, yang kokoh dan nyaman. Gentleman adalah para laki-laki yang kuat, kokoh, bisa diandalkan, membuat kita merasa aman, dan sekaligus lembut, membuat nyaman, hangat, dan penuh kasih.

Meski aku bukan seorang laki-laki, aku juga ingin bisa seperti itu. Gentle versi perempuan.
Ya Allah, ya Rabbi, kapankah Engkau akan mengutus malaikat maut untuk menjemputku? Untuk pergi meninggalkan raga ini, keluar dari dunia ini menuju Engkau menuju keindahan. Melepas rindu yang demikian berat.

Ya Allah yang Maha Kuasa, jadikanlah aku mudah untuk mencintai-Mu, jadikanlah aku untuk taat dan tunduk kepada-Mu, menjalankan segala yang Engkau sukai dan meninggalkan segala yang tidak Engkau sukai.

Ya Rabbi yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, berikanlah aku petunjuk, jangan biarkan aku tersesat, sayangilah aku, kuatkanlah aku, luaskanlah hatiku, jernihkanlah pikiranku, segala puji bagi-Mu wahai Tuhan semesta alam.
Kamis, 11 Juni 2026

Kemarin orang-orang banyak yang mengeluh di internet. Karena harga pertamax naik tinggi sekali, dari 12 ribu ke 16 ribu. Pemerintah memang menyebalkan.

Tadi malam aku menonton salah satu podcast suara berkelas. Bintang tamunya adalah ustad Felix Siauw. Ada kata-kata ustad Felix yang terngiang-ngiang sampai sekarang sejak semalam. Beberapa kali aku memikirkannya, saat aku di kamar mandi, saat aku membereskan buku-buku, saat aku makan, saat aku menyapu. 

Kata-katanya kira-kira seperti ini:
"Seseorang tidak akan bisa fokus kalau dia tidak tau apa tujuannya. Bagaiman mungkin bisa fokus kalau tidak ada hal untuk difokuskan?"
Tujuan. Harus ada tujuan. Harus ada yang difokuskan. Just pick one, then fokuskan!
Di dunia yang sudah serba mudah dan serba  digital ini, ada hal-hal sulit dan tidak menyenangkan yang tetap harus kita lakukan di dunia nyata untuk membangun hubungan yang nyata.

Ada hal-hal yang tetap harus kita hadapi untuk meregulasi pikiran kita. Ada hal-hal yang harus dilakukan atau pun dihentikan agar kita tetap menjadi manusia.
Aku ingin memulai cerita baru. Cerita perjalanan kisah hati. Hati yang ingin ku bangunkan. Hati yang sudah tertidur lama sekali.

Maksudku, aku menemukan seseorang belum lama ini. Belum jelas apa yang aku suka dari dia. Belum jelas juga akan seperti apa jadinya. Dan apalagi mau dibawa ke mana, masih belum jelas semuanya.

Yang aku tau sekarang adalah, aku sedikit merinding saat tadi aku melihat dia naik tangga ke arah mushollah. Merinding yang sangat aku sukai. Hatiku mengembang karena bisa melihat dia hari ini, walau dari kejauhan, walau hanya satu detik, atau mungkin tak sampai satu detik. Karena aku langsung memalingkan pandangan.

Sebenarnya tadi sore ada momen lagi yang bisa membuatku melihat dia. Tapi aku tidak mau melihat ke arah dia. Seolah jika aku melirik dia sedikit saja, semua orang akan berteriak kepadaku dan menuduhku menyukai dia, dan lalu membuat dia tak nyaman dan malu.

Aaah! Bagaimana caranya agar dia tau kalau ada aku di dunia ini? Apa yang bisa aku lakukan agar dia melihat ke arahku? Ya minimal lihat saja dulu. Kalau memang aku bukan yang dia mau, ya sudah.

Tapi sejujurnya, hatiku senang menemukan sosok seperti dia. Meski aku tidak tau siapa dia sebenarnya, apa yang dia tuju, dan bagaimana hidup yang dilaluinya. Aku bersyukur ada dia di dunia ini.

Ya Allah, ya Illahi Rabbi. Engkau tentu lebih paham isi hatiku. Terima kasih Ya Allah. Segala puji bagi-Mu.
Kamis 28 Mei 2026

Jam makan siang. Masih di ujung antah berantah. Aku benar-benar harus sabar, menjaga agar diriku tidak meledak. Aku harus banyak istighfar. Aku merasa menjadi seekor monyet yang disuruh berenang cepat. Bisa berenang sih, tapi tidak bisa secepat para buaya ini. Tahan tahan, jangan membuat masalah, hanya sebentar lagi.

Kenapa manusia banyak yang berharap punya anak? Harapan. Manusia ingin bayi karena menyimpan harapan. Sa­yangnya mereka tak tahu setiap makhluk punya takdirnya sendiri-sendiri, tidak bisa jadi harapan orang lain. -zy-
Kamis menjelang magrib, 21 Mei 2026
Di stasiun Nambo

Sejak di jalan menuju stasiun tadi aku terpikir, bahwa aku ingin ditemukan sebagai harta karun. Intan permata yang tak diduga-duga. Aku ingin menjadi percikan surga yang mewujud di  muka bumi ini. Untuk seseorang hamba Allah, yang pantas mendapatkanku sebagai perhiasan terbaiknya.

Oh mungkin itu yang bisa aku perjuangkan saat ini. Menjadi harta karun untuk seseorang.
Rabu, 20 Mei 2026

Tiba-tiba saja aku mengingatmu lagi. Kenangan itu kembali terputar di kepala. Tentang kapan terkahir kita bertemu? Jelas aku tidak lupa. Sabtu 14 Maret 2020. Kamu memakai kemeja putih berlengan pendek. Kamu bertanya padaku, apa yang sedang aku bicarakan bersama Seli? Sebenarnya waktu itu aku ingin sekali memberitahumu dan lalu mengajakmu. Tidak jadi aku lakukan karena kamu terlalu bodoh. Kamu tidak bisa membacaku. Dan malam ini aku merasa bodoh sekali karena mengingatmu.
Kadang banyak nasihat yang tiba-tiba datang kepada kita. Tak sengaja kita dengar entah dari mana dan untuk siapa. Tapi lansung menancap dan terus terngiang di kepala.

Aku tertancap satu diantaranya sore tadi. Bunyinya begini:

"Jangan sampe kenyamanan ini hilang dulu, baru kamu mau berusaha dan tidak bermalas-malasan. bersyukur."
Jumat, 15 Mei 2026

Pernahkah kamu tersesat?

Aku tidak pernah. Bukan, bukan karena aku pintar dan tau semua jalan. Tapi karena aku tak pernah kemana-mana. Dulu aku pernah kehilangan arah, mencari rumah teman yang tak membalas SMSku saat aku sudah di jalan. Hanya sekali itu saja, dan aku bukan benar-benar tersesat. Aku hanya tak tau tujuanku. Dan saat itu aku sangat frustasi dan kesal, dan juga takut. Umurku baru 14 atau 15 saat itu.

Sekarang aku sudah dewasa. Zaman semakin canggih. Aku bisa membaca maps, dan aku punya keberanian untuk bertanya. Aku tak pernah takut tersesat di bumi ini.

Tapi bukan tersesat itu yang sebenarnya aku maksud. Dan aku sangat takut tersesat dan menyia-nyiakan hidupku. Takut kehabisan waktu.
Senin 11 Mei 2026

Hari ini pekerjaanku terasa berat sekali. Bukan hanya karena pekerjaannya yang berat, tapi tekanan emosional dari rekan-rekan yang juga tertekan, membuat hatiku kacau tak karuan.

Tapi dengan mengingat kamu, mengingat momen terakhir kita bertemu itu, hatiku menjadi kuat. Hatiku menjadi damai, bagai tanaman yang tersiram hujan setelah menghadapi masa kekeringan.

Dan lalu aku mulai paham, mengapa hati orang-orang soleh itu bisa tenang dengan mengingat Allah. Qadarnya hati, menjadi tenang ketika mengingat yang dicintainya.
Minggu, 10 Mei 2026

Mengusahakan untuk selalu jujur apa adanya, sebab Ali bin Abi Thalib pernah berkata:

"Jangan menjelaskan dirimu kepada siapa pun. Karena yang menyukaimu tidak membutuhkannya, dan yang membencimu tidak akan mempercayainya"
pada akhirnya kita akan sadar bahwa semua yang terjadi adalah baik. karena semua rasa tak nyaman dan semua lelah itu adalah wasilah, adalah cara untuk melembutkan dan membesarkan hati dan jiwa kita. tanpa itu semua, hati kita tidak punya kesempatan untuk bertumbuh, jiwa kita tidak ada peluang untuk berkembang.

buat apa hati yang dan jiwa yang damai itu? biar pantas jadi penghuni surga
setelah turun ke bumi, katanya Hawa bertemu kembali dengan Adam setelah 40 tahun. 

Tapi aku bukan Hawa, kamu bukan Adam. Kita tidak perlu menunggu 40 tahun.
Kepada
diriku tersayang yang semoga baik-baik saja,

Dari
aku yang tak pernah ke mana-mana dan tak pernah benar-benar diajak ke mana-mana,

Ingatkah kamu cerita tentang rusa yang terluka itu? Tentang goa, tentang rombongan, dan tentang kematian? Kita pernah sejauh itu, kita pernah seterpuruk itu, dan kita sudah melewatinya.

Aku tau saat ini hatimu mengecil dan layu mengetahui mereka akan pergi tanpamu. Aku tau bagaimana kamu ingin berteriak, memaki dan membanting dunia karena mereka punya rencana berlibur tanpamu. Aku tau, aku paham. Namun wahai hatiku, dunia ini bukan kamu pusatnya, mereka juga punya kehidupan.

Ya, mereka juga punya kehidupan. Sampai di sini semoga kamu sudah mengerti. Dan tolong janganlah kamu kembali bersedih. Terlalu banyak bersedih tak baik untuk kesehatan jiwa kita.
Kepada seseorang yang api di rongga dadanya telah lama mati, aku ingin bertanya. Bagaimana kau bisa bertahan dengan hidup yang dingin? Tidakkah kau ingin meledak dan menjadi gila?

Kadang banyak hal yang bisa berubah dengan cepat, tak terduga, mengejutkan semua orang. Seperti seseorang budak yang mendadak kaya karena menerima hibah dari sang majikan. Atau seperti bencana yang tiba-tiba datang dan menyapu semua harta benda tanpa menyisakan apa-apa.

Entah mengapa, rasa-rasanya hidupku juga akan berubah dengan cepat dalam waktu dekat. Entah hal apakah itu, aku akan tetap berserah sepenuhnya kepada Engkau ya Illahi Robbi.

Aku tau segala hal yang Engkau datangkan pasti adalah yang terbaik untukku. Maka bantulah aku untuk memahaminya ya Rabb. Tolong jagalah agar aku tetap berada di jalan yang Engkau inginkan. Kuatkanlah dan mampukanlah aku untuk menjalaninya.

Terima kasih wahai Sang Maha Pengasih, Sang Maha Penyayang

Ciputat 2 Februari 2026
Senin, 6 Oktober 2025
Buku ke-28, bab 1, halaman 6

Ya Illahi Rabbi, Engkau tentu paham kegelisahanku malam ini. Kegelisahan yang sudah lama sekali mengantri, malam ini ia memaksaku menghadapinya. Menggedor kepalaku untuk memikirkannya saja.

Kegelisahan tentang siapakah yang cocok untuk menggantikanku di posisi kurikulum MIQA Aqsyanna. Aku harus segera pergi dari sana. Bukan, bukan karena aku lelah atau tidak mau lagi menyumbangkan tenaga dan pikiranku di MIQA, tapi karena aku milik Lenna. Lenna sangat membutuhkanku, dan Lenna adalah anak kandungku.

Ya Rabb, tenangkan lah kegelisahan hatiku, jernihkan lah pikiranku. Agar aku bisa membaca tanda dan petunjuk-Mu. Wahai yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, sayangilah aku, kasihilah aku. Terima kasih ya Allah, ya Illahi, Rabbi.