Apa yang Esnida lakukan dalam 24 jam pertama di usia 29?
  • punya prinsip hidup baru: "hari ini aku bersyukur apa bersabar ya?"
  • abis subuh baca buku cerita orang agama sebelah sampe ketiduran jam 7 pagi 
  • mulai nyoba teknik jalan cepat seperti yang direkomendasikan para ahli
  • nginstal aplikasi podomoro alias cat gatekeeper di komputer kantor 
  • kerja seperti biasa
  • payung ketinggalan di kantor 
  • beli dan masak 1 kg ampela
  • ikut badminton ibu-ibu dapur berkah
  • makan ampela sampe rahang pegal
  • memutuskan tidak memperbaiki speaker hp sampai bulan depan. Karena gara-gara speaker rusak, jadi lebih sering baca buku dibanding scrolling
Kata istri kakakku, 
"Orang lain ga perlu tahu usaha kita gimana, planning kita apa, proses kita sudah sampai mana, jatuh bangunnya kaya apa, yang boleh mereka tahu kita bahagia dan beruntung"

"Esnida slow downnn, relax.. aku capek liat kamu terburu-buru gitu"

Itu kata seorang teman yang sedang berjalan bersamaku tadi sore. Setelah dipikir-pikir, dia benar juga. Kenapa aku sering sekali bergerak seperti terburu-buru? Jujur, sebenarnya aku cape juga. Aku lelah dan ingin menangis. Tapi ya gimana ya? Ya Allah...

Mungkin dialah yang mereka sebut sebagai kaktus berbunga. Keras, mandiri, dan indah dalam kesendiriannya.
Terima kasih ku ucapkan, kepada semua orang, di manapun kalian berada malam ini, kalian yang hari ini telah memudahkan semua urusanku, membuatku tersenyum, membuatku merasa bahwa hanya perlu membuka mata sedikit saja untuk melihat dan menangkap banyak kebaikan di dunia ini. Semuanya baik sekali. Maha suci bagi-Mu ya Illahi Rabbi
Tadi seorang teman bertanya, laki-laki seperti apa yang red flag bagi kamu?

Ku jawab, standarku cukup bagus. Laki-laki yang menulis 'di' pada kata 'dipisah' yang dipisah, itu sudah masuk kategori red flag. Laki-laki yang tidak menghidupkan centang biru chat whatsapp pun red flag.

Temanku diam saja. Dia tampak hilang minat untuk melanjutkan obrolan. Padahal aku punya banyak penjelasan mendalam kalau dia bertanya apa alasannya.

Tapi sebenarnya tidak seekstrim itu juga. Mereka yang salah menempatkan imbuhan di-, dan mereka yang mematikan centang biru chat wa itu, yellow flag kali ya?? nggak green tapi nggak red juga. 🚥
Orang-orang yang bisa dengan santai beli 1 sesi kelas yang nggak nyampe sehari seharga 3 juta lebih itu, mereka kerja apa sih?
Kadang-kadang aku juga ingin seperti orang-orang. Aku juga ingin seperti mereka, yang bisa membagikan kisah sedih dan kesulitan-kesulitan hidup yang dialami.

Aku juga ingin membuat postingan dengan kalimat-kalimat sedih, dengan cerita cobaan yang bertubi-tubi, yang membuatku berjalan terpincang-pincang, yang membuatku berdarah-darah, yang membuatku menangis sampai mata bengkak dan hidung lecet karena terlalu banyak dipencet,

tapi ah! tidak semua orang berhak mendengar ceritaku. Hanya mereka yang istimewa saja, barangkali, suatu hari nanti.
Benar kata orang. Ketika lapar, banyak pikiran-pikiran negatif yang tiba-tiba menyerang. Malam ini contohnya, aku merasa kesal sekali dengan lalu lintas motor dan mobil yang tidak berhenti-henti di depan Gang Bacang. Aku jadi kesulitan menyebrang, menunggu lama sekali sampai aku hampir menangis. Aku merasa kesal dan sedih. Dan setelah sadar, ternyata aku hanya lapar.
Sudah Jum'at, 25 September 2026

10 menit lagi menuju pukul 01.00 dini hari. Sepi, menikmati hari-hari terakhirku sebagai seorang pengangguran. 
There were many times I had no idea what I was doing, just kept swimming 🐠
Selasa, 8 September 2026

Pukul 22.50 wib. Aku mendengar suara kuak-kuak kodok minta hujan. Entah ini hanya suara-suara khayalanku saja, atau tadi itu memang suara kodok. Tapi di puncak musim kemarau begini? Di tengah Ciputat sini?

Suara itu ku dengar persis saat aku sedang berdoa setelah sholat isya. Aku meminta sesuatu yang bahkan aku tak mampu menyebutnya dalam doa. Ya, sering sekali terjadi. Tapi aku tau Allah sudah paham maksudku.

Dan aku jadi bahagia karena tadi aku merasa berdoa bersama kodok-kodok itu. Mereka memintakan hujan untuk bumi, aku meminta sesuatu yang baik dan bermanfaat untuk hidupku.
Benar kata teman adikku,
hidup akan terasa lebih seru kalau direkam dan diedit. Dan di-posting tentu saja. Kalau tidak benar-benar seru, setidaknya terlihat seru.
Seorang teman bertanya padaku,
"kata orang, age is just a number. kamu melihat umur itu penting nggak untuk dipertimbangkan dalam memilih pasangan?"

Jawabanku,
"kalo aku, sebenarnya yang ku cari dari melihat umur itu adalah kedewasaan dan kematangan ya. Jadi, ya memang age is just a number. Tapi biasanya yang umurnya udah banyak, pengalamannya juga lebih banyak. Kedewasaan dan kebijaksanaannya sudah terbentuk. Tapi belum tentu juga sih, sebagian orang memang banyak pengalaman, tapi mereka lupa belajar dari pengalamannya."
وَٱلَّذِينَ جَٰهَدُوا۟ فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ لَمَعَ ٱلْمُحْسِنِينَ

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik

Al-‘Ankabut Ayat 69
Kata Teh Patra, 
"yang penting mah kita mulai dulu. Ketika kita sudah memulai, biasanya ide-ide itu juga akan bermunculan" di tengah jalan. Pintu-pintu rezeki itu akan terbuka satu-satu dengan sendirinya.

Sama juga dengan semua pekerjaan lain. Mulai aja dulu, langkah pertama biasanya memang berat. Tapi kalo sudah melangkah, seperti mesin yang dinyalakan, otomatis terus bergerak.

Kalo dipikir-pikir, pernyataan ini banyak benarnya. Contohnya saat aku mencuci piring. Untuk memulainya memang malas dan berat. Tapi kalau sudah mulai, ya otomatis dikerjakan sampai selesai. Kalau tidak dimulai, piring bekas makan itu bisa tergeletak di tempatnya berhari-hari.
Aku punya seorang teman. Teman yang diam-diam ku kagumi sejak dulu. Teman yang diam-diam pernah aku ceritakan segala kebaikannya kepada temanku yang lain. Teman yang diam-diam aku pernah ingin sekali menjadi dia.

Belakangan ini dia sering sekali memposting foto bulan. Foto yang dia buat memang indah. Dan setiap kali dia memperlihatkannya, aku selalu ingin bertanya, "kenapa Mbak suka sekali memandang bulan?"

Tapi ku kira, aku sudah tau jawabannya. "Karena yang ku pandang itu adalah bulan yang sama, yang dulu juga sering dipandang oleh Rasulullah" mungkin kalimat inilah yang akan ku dengar darinya jika aku benar-benar bertanya.

Hamba-Mu yang satu itu cantik sekali ya Allah. 
mungkin om teh hijau teh hijau itu benar, harus tambah gerak tubuhku, baca buku yang baru. atau mungkin, tambah dunia yang baru?

seperti yang dikatakan mas gun,

"ku kira perjalanan kita sangat panjang, kita belum bertemu. masih sibuk menyelesaikan urusan kita sendiri-sendiri.
sibuk menata banyak hal. menyelesaikan masa lalu, menghidupkan hari ini, dan merencanakan masa depan. 
perjalanan kita masih jauh. setiap langkah kaki kita akan mendekatkan kita. jangan berhenti."
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَٱبۡتَغُوٓاْ إِلَيۡهِ ٱلۡوَسِيلَةَ وَجَٰهِدُواْ فِي سَبِيلِهِۦ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.

QS. Al-Mā'idah: 35
dan akhirnya aku tau, tentang siapa yang paling ingin mendengar ceritaku, siapa yang paling menunggu tulisanku. ialah diri ini sendiri. 

mungkin delusi itu benar, bahwa di dunia ini hanya ada aku. bahwa dunia ini hanya diciptakan untukku. bahwa segala hal selain aku hanyalah hologram. yang begitu nyata. untuk mengujiku.

dan lalu aku menghadapkan wajah ke langit. benarkah aku akan tenang di atas sana?
Ya Illahi, Rabbi, ku adukan diriku sendiri kepada-Mu, ya Tuhanku. Aku telah begitu zolim kepada diriku sendiri. Aku mengadukan semua kelemahan, ketakutan, ketidak berdayaan, dan rasa rendah diri; dan Ya Rabb, bahkan aku telah banyak menzolimi hamba-hamba-Mu yang ada di sekeliling ku.

Namun ya Rabb, yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, Engkaulah Sang Maha Bijaksana, Engkaulah yang tau betapa lemah dan rapuhnya hamba-Mu ini. Ampuni hamba ya Rabb. Ampuni segala kezaliman ini.

Dan hanya kepada Engkau, wahai zat yang tiada daya dan upaya kecuali atas kehendak-Mu, tolong tuntun aku dengan lembut dan dengan kasih sayang-Mu yang tiada berbatas itu. Jadikanlah hamba-Mu yang satu ini sebagai rahmatan lil alamin. Tolong Ridhoi dan cintai aku yang lemah dan tak bisa berbuat apa-apa ini ya Rabbi, ya Illahi.

Ya Rabb, yang telah mengabarkan bahwa Engkau selalu dekat, begitu dekat. Tolong terus ingatkan hamba-Mu ini bahwa Engkau begitu dekat, selalu dekat. Hamba sering sekali lupa, terlalu sering lupa bahwa Engkau selalu ada bersamaku.

Ya Rabbi, bolehkah aku meminta dengan memaksa, agar Engkau jadikan aku selalu bisa merasakan bahwa Engkau selalu dekat. Aku takut tersesat di dunia ini ya Rabb. Temani aku dan jangan Engkau tinggalkan.

Ampuni hamba-Mu ini ya Allah. Seharusnya aku tidak berbicara begini, seharusnya aku selalu bersyukur dan ridho atas segala yang Engkau takdirkan. Namun ya Rabb, akulah seorang hamba, dan Engkaulah Tuhannya. Izinkan aku untuk terus mengadu dan meminta kepada-Mu ya Rabbal alamin.
tidak sesederhana itu! atau mungkin sesederhana itu?

sudah dua bulan belakangan aku susah tidur. lagi. takut tidur. takut ada nyamuk. hah? takut sama nyamuk? well yeah,  I do. takut mimpi buruk. dan lebih takut lagi kalau ada penjahat atau meteor jatuh tepat di atas kosanku. overthinking. yes it is. minum obat tidur? tidak. aku tidak mau lagi. aku bisa tidur dengan alami. jangan buka hp. tapi bolak-balik jungkir balik 2 jam di tempat tidur, dan tidak tidur-tidur, juga bikin frustasi.

sudah lewat tengah malam. sudah terlalu malam. tidak. sudah pagi. masih terlalu pagi. nanti harus bangun sebelum jam 4 untuk siap-siap. ah mereka bohong. tidak akan benar-benar jam 4. hari ini aku hanya makan 3 telur dan bakwan toge. tapi aku minum banyak air. tetap. harusnya aku makan gizi seimbang.

harusnya ini sudah lewat 2 hari. ya. terlambat lagi. badanku tidak terlalu sehat. jiwaku juga. sepertinya. tapi aktivitas harian tetap normal kok. tapi aku sering tidur lagi setelah subuh. siang ngantukan. malam susah tidur. 

tapi aku bebas. aku bisa melakukan semua hal sesuka hatiku. aku sering badmood. tapi aku menjauhkan diri dari semua orang. aku tidak akan menyakiti siapapun. tapi ibuku menelponku duluan. biasanya selalu aku yang menelpon duluan. ibuku sedih melihatku. aku juga sedih melihat diriku. tapi aku masih terlalu keras kepala.

harus berubah. halah. berubah aja kalo mau. paling cuma seminggu. berubah tidak sesederhana itu tau. tau. tapi aku takut mati. dan kalau kita tidak pernah melakukan apa-apa, nanti gimana cara laporannya? hidupmu masih lama. nanti tunggu tua. tapi bagaimana jika kita tak pernah menyelesaikan misi kita?
someone once told me, don't be part of the problem. BE THE WHOLE PROBLEM! don't limit yourself, go wild!
Terlalu banyak buku, terlalu sedikit waktu. Aku ingin mengeluh, kenapa anda banyak sekali buku yang menarik di dunia ini? Kenapa mereka semua begitu MENARIK??!!

Aku ingin membaca semuanya! Sekaligus!! (kalau bisa). Aku ingin membacanya sekaligus! Semuanya!!!
Jum'at, 31 Juli 2026

Di manakah aku menyembunyikan amarah dan kebencianku? Aku lupa menaruhnya di mana, dan aku memerlukannya untuk dipakai hari ini. Sebab seseorang yang begitu pantas dijauhi dan dilupakan datang menghubungi lagi pagi ini.

Orang itu cukup pantas dibilang jahat dan tidak beradab. Oh tapi saat ini aku malah bersimpati padanya. Aku kasihan dengan hidupnya yang sepertinya sudah hancur porak-poranda. Aku berharap dia segera kembali ke jalan yang benar, dan diberi kekuatan untuk menyelesaikan segala masalah yang sudah dia buat.

Aku masih belum mengerti dengan diriku sendiri, kenapa aku tidak marah? Kenapa aku tidak berkata keras dan jahat kepada dia? Kenapa aku seperti tetap mau menerima kehadiran dia? Padahal dia berbahaya untukku, dia bisa saja melakukan hal yang melampaui batas dan menipu lagi.

Apakah karena dia penipu ulung, sehingga aku pun tertipu dengan mudah? Atau memang hatiku yang sudah berkembang begitu besar sehingga mampu bersimpati? Atau ini another syaiton tricks? Ya Rabb, Engkau tentu lebih tau apa yang terjadi pada hamba-Mu yang lemah ini. Lindungilah selalu aku ya Allah, ya Illahi, ya Raman ya Rahim.
Senin, 27 Juli 2026

Pernahkan kamu bertemu seseorang? Yang begitu menarik perhatianmu, yang disambut baik oleh hatimu, dan yang menyalakan sesuatu di dalam dirimu. Lalu kamu tergerak untuk mencari tau tentang dia. Dan lalu, setelah kamu sedikit tau, tiba-tiba kamu berhenti.

Kamu menemukan bahwa dia tidak seperti yang hatimu harapkan. Dia melakukan sesuatu yang tak disukai Tuhanmu. Tidak ada yang bisa kamu usahakan untuk melanjutkan usahamu, jalan buntu. Kamu memaksa dirimu untuk berhenti. Berhenti di garis start.

Dan cerita ini, cerita cintamu yang gugur sebelum berkembang ini, membuat hatimu menangis sembari berbisik, nampaknya yang harus dilanjutkan adalah cerita penantian. Kamu menguatkan hati, berusaha sabar dengan waktu menunggumu yang terus diperpanjang. Jawaban itu belum akan datang sekarang. Bukan sekarang.
Dulu, saat temu kangen bersama teman-teman MIQA batch 4 di sebuah kafe yang dindingnya menyatu dengan dinding masjid, di daerah Bintaro. Aku mendapat giliran manjawab sebuah pertanyaan, pertanyaannya: "apa yang membuat kamu tertarik dan ilfill kepada seorang laki-laki?"

Jawabanku (dan sampai saat ini masih berlaku), yang bikin aku tertarik adalah suaranya. Dan yang bikin ilfill juga suaranya. Standar ganteng menurutku adalah suara. Bukan suara yang dibuat-buat seperti saat menyanyi atau saat mengisi acara, tapi suara asli. Suara standar yang digunakan sehari-hari untuk berbicara, mengobrol, dan sebagainya.

Aku suka suara-suara yang teduh. Suara yang membuatku betah berlama-lama mendengarkan apa saja yang keluar dari seseorang dengan suara itu. Suara yang membuatku memejamkan mata dengan perasaan aman dan tenang.

Selain suka suaranya, aku tentu juga suka dengan apa yang disuarakan, apa yang dibicarakan. Yang membuatku tertarik itu bukan sekedar suaranya, tapi apa yang ada di dalam kepala dan apa yang ada di dalam hatinya.

Tadi aku sudah mendengar suaranya. Oh God, tapi bagaimana ini?? Dan yasudah, Alhamdulillah bi nikmatihi, aku tidak mau membuat masalah di sini.
Dulu saat masih kecil dan belum sekolah, aku suka mengumpulkan bunga kopi yang jatuh gugur karena kena hujan deras atau kena angin. Bunga-bunga mungil warna putih itu ku cium-ciumi. Dulu aku berpura-pura seperti orang yang mencium bunga melati, yang katanya harum sekali dan warnanya putih seperti bunga kopi.

Aku suka bunga kopi yang gugur. Tapi ibuku sangat tidak suka melihat bunga kopi yang jatuh-jatuh dan gugur. Beliau bilang buah kopi tidak akan lebat jika bunganya banyak yang gugur. Dan beliau benar, memang begitulah adanya.

Malam ini aku merasa, akulah si bunga kopi yang gugur itu. Gugur karena hujan dan angin kehidupan. Tak sempat tumbuh menjadi putik, tak bisa menjadi buah, mustahil menjadi buah kopi yang merah mengkilap dan membuat ibu dan bapakku bahagia.

Tapi semoga ini hanya perasaanku saja. Aku bukan bunga kopi. Aku adalah manusia. Aku hamba Allah. Aku memang tidak tumbuh dengan baik, tapi ya Allah, sudah banyak sekali nikmat yang Engkau berikan. Maafkan hamba-Mu yang sering sekali lupa bersyukur ini. Maha Suci Engkau ya Rabbal alamin.
Sabtu, 25 Juli 2026

Kabar buruknya, aku patah hati malam ini. Kabar baiknya, aku punya hati.

Mungkin aku benar, saat dulu sudah lama berselang, saat aku mengatakan kepada seseorang, bahwa aku adalah pohon, dan pohon tidak bisa pergi kemana-mana. Dia tumbuh di tempat dia tumbuh. Dan mati jika mencoba pergi. Dia tidak bisa seperti burung yang bebas terbang ke manapun. Tidak seperti burung yang bisa membuat sarang di mana dia suka.

Malam ini aku tidak suka menjadi pohon. Aku sudah lelah menjadi pohon. Tapi rasanya aku akan mati jika aku pergi.
Jum'at, 24 Juli 2026

Aku menangis 4x hari ini dan aku sudah lupa alasan aku menangis yang ke-4. Aku lucu sekali, belakangan ini aku mudah sekali menangis. Alasan aku menangis yang ke-3 tadi adalah karena cerita sedih dari buku yang baru aku tamatkan.

Malam ini jadwal aku menelepon ibu, tapi  sepertinya aku lakukan besok saja. Sekarang aku sudah makan, sudah mandi, sudah sholat isya juga. Dan sekarang masih jam setengah sembilan malam. Sepertinya aku bisa langsung tidur kalau aku mau. 

Tapi buku yang baru ku baca 20 lembar sore tadi menarik sekali. Judulnya Human Kind, penulis Rutger Bregman. Dia punya teori yang bertentangan dengan banyak keyakinan umum. Aku akan membacanya sedikit lagi.
Setelah memandang kembali ke belakang, melihat potongan-potongan kenangan bersama teman-teman dan rekan-rekan, sepertinya benar bahwa aku terlalu keras kepada diriku sendiri. Sehingga aku juga keras kepada orang-orang.

Aku perlu belajar melenturkan otot-otot emosiku yang nampaknya terlalu ngotot. Perlu lebih banyak belajar berempati, belajar slowing down, belajar tenang, dan belajar zooming out. Meluaskan pandangan, meluaskan ketenangan, meluaskan kasih sayang.
Mungkin benar yang dituliskan Pak Faiz, bahwa tidak semua hal harus kita pahami. Beberapa hal hanya perlu ditanggung dan dijalani.

Seperti kata Dere, dunia ini tidak akan menarik lagi jika kita tau dan paham segala hal.
Rabu, 22 Juli 2026

Ayah dari seorang teman SD yang juga tetanggaku di Palembang, meninggal dunia kemaren sore. Ayah temanku ini seumuran dengan bapakku. Mungkin 1 atau 2 tahun lebih muda.

Sejujurnya hatiku jadi merinding dan diserang ketakutan. Aku takut sesuatu terjadi pada bapakku. Meski tak pernah ku tunjukkan, aku tetap sayang sekali pada beliau. Beliau adalah bapakku. Sekarang beliau sudah berusia 71 tahun.

Ya Allah, Engkau tentu lebih paham segala takut dan khawatirku, ya Rahman ya Rahim.
"para petarung terbesar di dunia bukan hanya orang-orang yang tidak mengenal rasa takut, melainkan juga orang-orang yang tidak bisa marah"

"kenapa ada orang yang ingin merasa sakit dan takut? supaya mereka bisa merasa hidup."

-kutipan dari sebuah buku-
Sabtu dini hari, 18 Juli 2026

Memang sebaiknya kebencian itu redam dan berhenti di kamu, Es. Tidak usah kamu teruskan dan sebarkan lagi ke orang-orang. Aku tau kamu ingin meledak, aku tau hatimu menggelegak, aku tau kamu ingin mengadukan betapa dia salah paham dan tanpa ba-bi-bu langsung menyerang dengan kata-kata yang harusnya tidak usah diucapkan.

Aku jadi ingat cerita Kang Rendi tentang tangannya yang terluka. Suatu saat, tangan Kang Rendi terluka oleh pisau. Luka yang cukup dalam, mengeluarkan banyak darah dan sampai nyeri berhari-hari. Lalu tangan beliau yang terluka itu tidak sengaja dipegang oleh anaknya yang belum ganap berumur 1 tahun.

Kang Rendi bilang, tak peduli seberapa lembut pegangan anaknya itu, tangan beliau tetap terasa sakit sekali. Sakit sekali. Tangan Kang Rendi tersakiti oleh pegangan anaknya. Padahal anak itu tidak ada maksud untuk menyakiti tangan Kang Rendi. Anak itu tidak ada niat menyusahkan Kang Rendi.

Maksud cerita ini, jika kita menyentuh (ataupun tak sengaja menyentuh) bagian seseorang yang sedang terluka, tak peduli selembut apapun cara kita menyentuhnya, dia akan tetap merasakan sakit. Dia akan tetap merasa diserang. Dia akan tetap masuk ke mode defensif. Dan jika dia tidak take a break dan mengambil napas, tentu saja dia akan langsung menyerangmu. Dengan kata-kata yang seharusnya tidak usah diucapkan.

Maka ambil sedikit jeda ya Esnida, take a break, bernapas dengan tenang, jernihkan dulu pikiranmu sebelum kamu membalas. Dan sebaiknya tidak dibalas. Redam dan hentikan di kamu. Damaikan kebencian itu di dalam hatimu yang semoga mulai luas dan tenang itu.
Jum'at, 17 Juli 2026

Tadi malam tanganku terkena ledakan minyak panas, tapi langsung aku siram dengan air mengalir. Memang sempat terasa sakit, panas, dan berdenyut-denyut selama sekitar 15 menit. Tapi sebelum tidur ku lihat tanganku tampak baik-baik saja. Tidak ada tanda-tanda melepuh dan tidak juga terlihat kulit terbakar.

Siang ini aku perhatikan lagi baik-baik tanganku. Karena ia terasa agak aneh dan asing sejak tadi subuh. Ternyata ada garis merah-keunguan yang menjalar di sepanjang jari tengah, lebarnya sekitar setengah centi. Ternyata kulitku terbakar juga, pantas saja tanganku agak aneh, rasanya dan gerakannya.

Tapi tanda terbakar ini cantik sekali, seperti guratan henna. Dalam hati aku berkata, kok bisa ya bentuk luka bakarnya seperti ini? Harusnya kan begini dan begini, karena semalam posisi tanganku seperti ini, dan bla bla bla. Aku jadi sering memandangi tanganku. Terkagum dengan bentuk lukanya.
Hati mungilku ini memang lucu sekali. Tadi siang ia berdegup kencang saat aku membaca kabar sebuah nama. Nama yang beberapa waktu belakangan ini menjadi sebuah tanda tanya. Hanya sepotong nama, tapi cukup powerfull untuk membuatku bersemangat seharian. Aku tersenyum melihat tingkah hatiku. Biarlah, aku bersyukur karena ada yang membuatnya gembira hari ini.
Kamis, 16 Juli 2026

Rupanya aku sudah melupakan pelajaran dari seorang teman yang kuliah jurusan psikologi itu. Dia 6 tahun lebih muda dariku, dia seumuran dengan adikku. Dan sekarang dia sudah hampir lulus kuliah.

Tiga atau empat tahun lalu dia bilang padaku untuk selalu menyediakan ruang kecewa sebanyak 20%, dan ruang berharap 80% di hatiku. Apapun itu, siapapun itu, bagaimanapun itu, pokoknya selalu sediakan ruang untuk kecewa 20%!

Aku benar-benar telah melupakan pelajaran itu. Sehingga dadaku terasa begitu sesak saat mengetahui bahwa ada seorang teman yang menjauh. Dia memilih pergi, tidak lagi berada di lingkaran ini, tidak lagi akan berjalan bersama. Tanpa ada diskusi dulu denganku, bahkan aku mengetahui kabar ini dari orang lain.

Aku kira kami akan selalu berjalan bersama selamanya. Bersama-sama melewati banyak musim, berhadapan dengan banyak wajah, belajar dan saling membahu bersama. Bahkan aku pun sudah siap memaafkan atau minta maaf jika suatu saat nanti kami bertengkar.

Tapi beginilah dunia. Banyak hal yang tidak aku tau. Apalagi hati manusia, mereka rumit sekali untuk dipahami. Iya, aku memang sangat kecewa atas kepergian dia. Tapi barangkali kecewaku ini adalah akibat ulahku sendiri. Yang terlalu berharap, sepenuhnya berharap, dan lupa menyisakan 20% ruang untuk kecewa.
Ahad, 12 Juli 2026

Di sepanjang jalan menuju kosan malam ini, aku merenungkan sesuatu. Tentang kenapa sih Allah menciptakan manusia yang tidak bisa langsung saling memahami?

Tadi aku mendengar cerita dari seseorang, dia menceritakan apa yang terjadi dan bagaimana situasi dia terhadap beberapa orang yang aku kenal. Aku juga pernah mendengar cerita tentang dia dari sudut pandang orang yang aku kenal itu. Aku mendapat 2 pov.

Dan, ya... pertanyaanku tetap satu. Kenapa mereka tidak bisa langsung saling memahami saja? Di mataku mereka sama-sama baik, tujuan mereka sama-sama bagus, nilai-nilai yang mereka perjuangkan sama-sama penting, cara mereka bersikap juga tidak ada yang salah jika dilihat dari sudut pandang mereka masing-masing. Seharusnya mereka bisa saling melengkapi, bisa saling mengajari. Tapi kenapa Allah ciptakan cara berpikir yang begitu berbeda sampai mereka bisa saling menyakiti?

Bukankah lebih mudah prosesnya kalau Allah ciptakan mereka bisa langsung saling memahami saja? Sehingga tidak perlu ada yang terluka, tidak perlu ada hati yang tersakiti, tidak perlu ada drama!

Ampuni kami ya Rabbi. Ampuni kami yang saling menyakiti karena saling tidak tau ini ya Allah. Kami belum paham, kami lemah, kami butuh banyak waktu dan kesempatan untuk menjadi hamba-hambaMu yang rahmatan lil alamin, kami butuh banyak ke-Maha Baiknya Engkau yang menanamkan pemahaman di hati kami. Tolong besarkan hati kami semua ya Allah, luaskan dan tentramkan. Maha suci Engkau ya Robbal alamin.
Masih Sabtu, 11 Juli 2026

Sore ini aku tau kalau ternyata aku masih vulnerable terhadap kritik dan saran. Tadi sebelum magrib, seseorang bilang padaku kalau aku harus belajar memisahkan antara sesuatu yang pantas dibahas di grup dengan sesuatu yang sekiranya tidak boleh dibahas di grup dan harus dibahas secara personal. Lalu aku bilang, kalau urusan itu adalah urusan komunitas, tidak boleh dibahas di grup juga? Dia bilang, ya.. urusan komunitas juga harus dibedakan antara yang umum dibahas di grup, dengan yang selayaknya harus dibahas secara pribadi.

Aku tau dia benar, aku tau aku membutuhkan saran itu. Karena aku memang sering blak-blakan membicarakan semua urusan komunitas itu di grup ataupun saat rapat. Semua aku sebutkan jelas, apa adanya, tanpa ada yang ditutup-tutupi. Tentu saja ini membuat beberapa orang tidak nyaman, karena terlalu blak-blakan.

Aku tau kritik saran itu baik untukku. Sudah disampaikan dengan cara yang baik, dan pada waktu yang baik pula. Tapi aku benar-benar kesulitan menerimanya. Tadi aku mendengar saran itu sambil gemetaran, untung tidak ada yg terlalu memperhatikan. Tidak ada yang sadar juga air mataku jatuh satu dua tetes.

Saat sholat magrib, tumpah lah air mata itu. Sejak takbiratul ikhrom sampai salam, dipenuhi air mata bercucuran. Aku membiarkan saja air mataku mengalir, tidak ku tahan-tahan. Aku membiarkan tubuhku memproses. Kalau memang masih ada trauma-trauma, memori-memori tidak baik tentang kritik, pengalaman-pengalaman pahit tentang kritik, atau luka-luka masa lalu yang disebabkan kritik, semoga semua mulai sembuh, tenang dan damai bersama derai air mata yang tadi tumpah.

Setelah sholat dan berdoa, aku berbisik pada hatiku, "wahai hatiku, kita sudah tidak perlu khawatir. Kita tidak harus menangis jika dikritik secara personal, kita tidak perlu takut dikomentari kepribadiannya. Kita sudah dewasa, memang ada hal-hal baik yang harus kita dapat dari cara yg tidak nyaman. Dan ada aku yang bisa melindungimu. Kamu tidak perlu takut wahai hatiku. Ada aku. Mari hidup sebagai seorang dewasa yang damai, tenang, yang luas hatinya, tegar jiwanya".
Sabtu, 11 Juli 2026

Tadi aku melihat 3 anak kambing sedang bermain-main. berkejar-kejaran dan melompat-lompat dengan riang gembira. Hatiku ikut senang dan mengembang seperti bunga-bunga yang bermekaran. Aku bersyukur bisa melihat dan terhibur oleh anak-anak kambing itu.

Lalu aku berpikir, bagaimana caranya menjadi riang gembira seperti 3 kambing itu? Agar Allah tersenyum senang melihatku, seperti aku yang tersenyum senang melihat anak-anak kambing itu.
Rabu, 8 Juli 2026

Malam sebelum tidur,
tiba-tiba aku teringat saat acara tukar kado beberapa bulan lalu. Hatiku sedikit layu, sebab menurutku saat itu, kado yang aku dapat bukanlah kado yang istimewa. Sedangkan aku sendiri mempersiapkan dan memberikan kado terbaik. Aku senang menyiapkannya, meski aku tidak tau siapa yang akan mendapatkan kado itu.

Jujur saja, aku ingin acara tukar kado itu diulang. Karena aku merasa acara itu agak tidak adil, karena apa yang aku dapat dibandingkan dengan apa yang aku berikan. Tapi ya sudah, Alhamdulillah. Saat itu aku menghibur diri dengan, sepertinya memang benda ini yang sedang aku butuhkan. Allah selalu memberikan yang terbaik untukku, pasti yang terbaik. Aku saja yang belum mengerti di mana letak baiknya? Di mana letak terbaiknya? Tetap Alhamdulillah pokoknya.

Malam ini aku memahami bahwa apa yang kita terima tidak selamanya menggambarkan siapa kita. Yang menggambarkan siapa kita sesungguhnya adalah apa yang kita berikan, apa yang kita lakukan. Aku jadi tau bahwa aku cukup baik, cukup cantik, cukup berharga. Seperti apa yang aku lakukan, seperti apa yang aku usahakan, seperti apa yang selalu aku berikan kepada orang-orang.

Kesadaran dan rasa ini sungguh menghangatkan hatiku. Aku bahagia karena kesadaran ini. Rasa yang sangat berharga. Aku merasa Allah yang mengatakannya padaku. Bahwa aku adalah apa yang aku berikan, aku adalah apa yang aku usahakan, aku adalah apa yang aku lakukan. Pernyataan ini terasa benar sekali, tak terbantahkan.

Dan pada akhirnya, ya.. aku benar, bahwa Allah selalu memberikan yang terbaik untukku. Aku saja yang belum bisa melihat, belum mengerti di mana letak terbaiknya. Selalu saja begitu, aku sudah hafal. Dan aku akan mengingat-ingat terus, saat aku kecewa pada sesuatu lagi nanti, aku akan berbisik pada hatiku bahwa, "Allah selalu memberikan yang terbaik, nanti kamu juga paham di mana letak terbaiknya"
Oh damn! Apa yang sebenarnya sedang aku rasakan? Hidupku baik-baik saja, tapi saat ini (tepat saat ini, malam ini, setelah aku makan) rasanya seperti ada sekantong besar kelereng yang tergantung di dadaku, berat dan menyesakkan. Kemudian kantong itu pecah dan semua kelerengnya jatuh berhamburan ke semua penjuru. Aku bingung. Kelereng-kelereng itu menggelinding ke segala arah. Yang mana yang harus aku kejar lebih dulu?

Rasanya seperti ingin melakukan sesuatu, tapi apa?? 

Hatiku ingin berteriak begini:
"aduh bagaimana ini???"
"oh please, I can't do this alone"
"someone, please come"
"help..."
Senin, 6 Juli 2026

Beberapa hari/pekan belakangan ini, ada yang berbeda dengan cara aku merasa. Aku terpantau lebih sensitif dan emosional. Bisa merasakan banyak hal dengan sangat jelas dan dalam. Entah ini sebenarnya adalah kondisi normal untuk semua orang (karena selama ini aku lumayan cuek, berbeda dengan orang-orang) atau memang aku sedang sangat sensitif.

Aku merasa kecewa kepada temanku yang banyak menolak. Padahal selama ini biasa saja. Aku tidak merasakan apa-apa jika teman menolak ajakanku, atau ajakan meet komunitas, atau saat dia beralasan tidak mau menghadiri sesuatu. Tapi sekarang aku bisa merasakan, bisa melihat dengan jelas bahwa orang yang banyak menolak sesuatu yang ditawarkan kepada dia adalah orang yang menyebalkan dan tidak menarik. Hampir sama tidak menariknya dengan orang yang banyak alasan dan sering mengeluh.

Wait, apakah seperti itu aku di mata teman-temanku selama ini? Karena aku juga sering sekali menolak ajakan, sering juga berpura-pura tidak tau kalau ada sesuatu maksud yang ingin disampaikan kepadaku. Ah iya, mungkin saja. Tapi ya sudahlah. Memangnya kenapa kalau aku tidak menarik di mata orang lain? Selama aku tidak mati dan orang-orang tidak mati, ya sudah. Ingat, ini dunia. Tempatnya banyak hal cacat dan salah. Ya sudah.

Well mungkin aku sebaiknya mengkoreksi diri juga. Karena seorang Muslim itu sebaiknya menarik. Tidak menyebalkan, tidak egois, dan peduli dengan perasaan dan kenyamanan orang lain juga. Aku jadi ingat sebuah quotes, entah dari siapa, bunyinya kira-kira seperti ini:

"Nyaman itu adalah ketika kamu nyaman dan orang-orang di sekitarmu juga nyaman. Kalau nyaman sendiri itu namanya egois."
Ahad, 5 Juli 2026

Aku melihat seseorang tadi pagi. Saat dia datang, sekitar pukul 9 pagi, aku sedang mengerjakan tugasku di dapur berkah Aqsyanna. Oh iya, hari ini aku kembali membantu dapur berkah. Pertama karena hari ini kurang personil ibu-ibu, kedua karena pengen aja. Sudah 2 tahun lebih aku tidak membantu dapur berkah.

Hari ini kami memasak lebih sedikit dari biasanya, hanya 600 porsi. "Hanya" katanya. Biasanya 700an porsi. Seingat ku, dulu saat dapur berkah baru dirintis, kami hanya memasak untuk sekitar 200-300 porsi. Sekarang sudah berlipat ya jumlah porsinya.

Saat aku sedang mengerjakan tugasku itu, dia datang. Mengendarai motor berwarna hitam-merah, helm full face, dia melihat ke arahku saat melewati ku. Setelah turun dari motor, dia langsung pergi ke arah archery range. Aku tidak sempat melihat wajahnya, dan aku tidak kenal perawakannya. Aku tidak tau dia siapa.

Tapi hati kecilku yang lucu ini, tiba-tiba berharap bahwa itu adalah dia. Dia yang 3 pekan lalu ku liat berada di Aqsyanna. Dia yang ku tulis sebagai "bukan tipe orang yang ramah, dan yang tidak banyak bicara". Sungguh-sungguh berharap sosok yang hanya ku lihat punggungnya tadi itu adalah dia.

Aku jadi sering-sering menoleh ke motor yang tadi diparkirnya. Sampai siang aku lakukan itu di sela-sela urusan dapur berkah. Tapi dia tak kunjung menghampiri motornya, sampai azan zuhur berkumandang, sampai lama sekali aku menunggu. Aku ingin memastikan, apakah itu benar dia, atau orang lain yang tidak ku kenal.

Tapi ya karena mengerjakan tugas di dapur berkah, tiba-tiba saja motor itu sudah tidak ada. Sosok itu sudah pergi. Ah aku jadi sangat penasaran sampai malam-malam begini. Padahal aku cuma mau tau saja, tadi itu dia atau siapa?
Kenapa aku merasa bahwa aku harus memberikan penjelasan kepada orang-orang untuk setiap keputusan dan pilihan yang aku ambil? Seolah-olah mereka harus mengerti kenapa aku melakukan sesuatu. Seolah-olah mereka harus tau semua alasan-alasan atas apapun yang aku kerjakan.

Sering sekali aku berlatih di dalam hati, untuk menjelaskan kepada orang-orang, kenapa aku begini dan kenapa aku begitu. Seolah mereka selalu memperhatikanku, selalu akan bertanya dan menuntut penjelasan atas semua tindakan-tindakanku.

Ini cukup membebani. Dan ini yang sering menjadi alasan kenapa aku tidak mau melakukan banyak hal. Aku takut ditanya. Khawatir ditanya. Khawatir tidak bisa menjelaskan. Khawatir alasannya tidak cukup keren. Khawatir dikomentari. Khawatir diremehkan. Khawatir menjadi omongan. Khawatir ditertawakan. Takut dibentak. Takut disalahkan. Takut menjadi beban orang.

Ah iya, aku baru ingat kalau dari kecil aku sering di-bully. Oleh keluargaku. Mereka semua mungkin hanya bercanda, atau mungkin juga mereka memang tidak tau caranya mendidik yang benar. Dan semuanya wajar, aku pun paham. Mereka tidak tau. Karena tidak belajar. Karena tidak mendapat kesempatan belajar, tidak ada yang mengajari. Mungkin aku pun akan sama seperti mereka jika mereka tidak memberiku kesempatan untuk belajar. Mereka hebat, karena mereka menyuruhku belajar. Dan sekarang aku tau, dan sekarang aku paham.

Mereka salah, iya. Tapi mereka tetap keluargaku. Aku mengerti kenapa mereka begitu. Aku ikhlas ya Allah. Dan ya Allah, tolong hapuskan lah semua luka dan semua rasa sakit yang disebabkan oleh perlakuan kurang tepat dari keluargaku ketika aku kecil. Mereka sayang padaku ya Rabb, mereka tidak bermaksud jahat, mereka hanya tidak tau. Tolong sembuhkan aku ya Allah, ya Illahi Rabbi. Maafkan aku, maafkan keluargaku, maafkan dan ampuni kami semua ya Allah. Kami begitu lemah, lengah, lalai dan tak berdaya. 

Ya Allah, aku tidak menyalahkan siapapun, tidak juga menyalahkan diriku, tidak menyalahkan apapun, karena aku tau semua ini adalah kehendak-Mu. Aku terima ya Allah, dan Alhamdulillah. Dan maafkan aku ya Rabb, karena telah banyak juga aku menyakiti hati hamba-hamba-Mu yang lain karena aku terbentuk seperti ini. Ya Allah tolong ubah aku menjadi hamba-Mu yang sebenar-benarnya. 

Ya Illahi, aku tidak mau hidup dengan beban ini. Aku tidak mau terus-terusan harus waspada untuk menjelaskan semua hal yang sebenarnya hanya ada di pikiranku saja. Tolong hapuskan semua perasaan-perasaan takut dan khawatir yang tidak perlu itu ya Allah. Aku ingin bebas, dan menjadi seseorang yang tenang untuk melakukan segala sesuatu yang baik dan bermanfaat untuk hidupku, untuk orang-orang di sekitarku, untuk-Mu ya Rabb. Hidupku untuk-Mu ya Rabbi. Tolong bantu aku.

Terima kasih ya Allah. Segala puji bagi-Mu, Tuhan semesta alam.
Jum'at sore, 3 Juli 2026

Sekarang aku benar-benar pengangguran, tapi aku baru saja memberi hadiah untuk seorang teman yang dulu pernah satu komunitas. Sepertinya dia baru selesai sidang skripsi sore ini, tadi aku melihat status WA-nya.

Hidup rasanya sudah begitu serius.. aku lupa.
Aku lupa kalau aku lebih suka membaca buku cetak daripada ebook. Aku baru membeli 6 buku yang sudah lama ingin aku baca langsung. 1 di antaranya adalah buku yang sudah beberapa kali aku baca. Aku mau membacanya lagi.

Aku lupa.
Aku lupa kalau aku suka mendengarkan lagu-lagu yang ada di playlist Youtube-ku. Kemarin aku kembali memutarnya, dan men-download 1 lagu yang hari ini sudah ku putar puluhan kali sejak tadi siang. Ini lagunya 🎧everyone is lonely

Aku lupa kalau aku suka menulis blog. Ku lihat postingan terakhir di blog ternyata sudah hampir 4 tahun tidak di-update. Mungkin aku akan aktif menulis blog lagi, entahlah.. mulai besok mungkin.. besok besok.

Aku lupa kalau aku sangat suka kucing. Orang Aqsyanna banyak yang bilang aku suka anak kecil, hah, mereka tidak tau saja kalau sebenarnya aku sering menggendong dan bermain bersama anak kecil itu karena pada dasarnya aku suka kucing. Bermain bersama anak kecil itu tidak jauh beda rasanya dengan bermain bersama kucing. Ternyata sudah 4 tahun juga sejak Si Gendut Joingki mati keracunan. Aku kembali ingat hari yang membuatku sangat bingung itu.

suatu sore bersama Joingki

Aku lupa kalau setiap awal tahun aku selalu menonton ulang serial animasi Avatar the Legend of Aang. Mungkin sudah 2 atau 3 tahun belakangan ini aku tidak lagi menonton ulang. Tadi aku baru tau kalau sekarang sudah ada versi live actionnya. Apa sebagus versi animasi? Aku berharap karakter uncle Iroh tidak mengecewakan. He is my favorite!

Aku juga lupa kalau aku suka berjalan-jalan di taman. Sekedar duduk-duduk sambil membaca buku, melihat-lihat tanaman di toko tanaman hias, atau sekedar berjalan-jalan sambil berkomentar di dalam hati tentang daun-daun, tentang dahan, tanah, batu-batu, air dan becekan, dan apa saja yang terlihat di depan mata. Taman yg sejauh ini paling aku suka adalah Taman Kota 2 BSD. Mungkin sudah 3 tahun lebih aku tidak ke sana, dulu aku mengunjungi taman itu 1x seminggu.

Aku juga lupa kalau aku suka berenang. Dulu sebelum covid, aku berenang setiap senin. Aku bisa berenang 1 jam. Benar-benar berenang, bukan bermain-main air seperti teman-temanku yang katanya berenang. Sudah 6 tahun lebih aku tidak berenang.

Aku juga lupa kalau aku suka hujan-hujanan. Dulu aku sering sekali sengaja keluar ketika hujan. Mengendarai motor tanpa tujuan, yang penting sambil hujan-hujanan. Pulang sembunyi-sembunyi lewat pintu belakang, basah kuyup, menggigil. Setelah itu mandi, lalu masak mie instan, kuah pedas dengan pakcoy, jamur kuping, sepasang sayap ayam, tambahkan sedikit garam. Atau mie goreng pedas dengan 2 genggam toge dan sayap ayam. Minumnya es teh tubruk yang direbus sampai mendidih lama.

Aku juga lupa kalau aku suka tanam-menanam. Dulu aku punya banyak sekali tanaman di kamarku. Sampai-sampai aku bingung harus ditaruh di sudut mana lagi, harus dikaitkan di mana lagi. kebanyakan adalah jenis kaktus-kaktusan dan tanaman low maintenance lainnya. Tapi dulu aku juga sempat menanam cabai, tomat, pakcoy, dan kangkung kalau tidak salah.

Aku juga lupa kalau aku suka senam. Dulu aku bangga sekali dengan gerakan-gerakan yang aku lakukan. Bahkan ponakan-ponakan pun aku ajak ikut senam di kamar. Aku lupa sekali.

Sekarang aku pengangguran. Belum tau mau bagaimana ke depannya. Tapi aku juga senang sekali hari ini. Aku baru membeli Al-Qur'an. Ukuran A6 dengan resleting dan cover berwarna hijau tosca. Alqur'an ke-2 yang aku beli sendiri. Dulu aku membeli Al-Qur'an pink itu saat masih SMA, aku ingat harganya 100 ribu. Pas 100 ribu. Di Gramedia Padjajaran. Sekarang aku punya 3 Al-Qur'an. Al-Qur'an pink itu, Al-Qur'an A5 yang dihadiahi oleh Oby dan Ami, dan Al-Qur'an tosca A6.
Seorang teman mengatakan bahwa aku ini tidak merayakan. Banyak hal dalam hidupku yang sebenarnya bisa dirayakan, tapi tidak ku rayakan. "Coba lihat orang-orang di sekeliling, mereka semua merayakan, kecil apalagi besar, selalu dirayakan. Kamu? Besar saja tidak dirayakan apalagi kecil".

Sebenarnya aku tidak terima dengan kata-kata yang menusuk-nusuk itu. Tapi dia benar juga. Dan mungkin karena aku terlalu banyak mengeluh. Berkata bahwa hidupku begini-begini saja, berkata bahwa aku tak pernah ke mana-mana, berkata bahwa aku tak pernah melakukan apa-apa.

Ya, dia benar. Aku harus sadar.

Malam ini aku merasa takut tak bisa merayakan orang-orang yang dekat denganku. Takut tidak peka dan tidak mengerti mengapa sesuatu patut dirayakan. Takut mereka tak mengajakku merayakan sesuatu. Saat ini aku memang sering sekali tidak diajak. Oh bukan bukan, bukan tidak diajak sama sekali. Mereka lelah mengajakku karena aku yang sering menolak.

Benar, aku harus banyak bergerak. Aku tidak boleh banyak menolak. Kemageranku ini memang harus dilawan. Ah tapi bagaimana caranya? Aku benar-benar lebih suka berdiam diri di rumah daripada lelah menjelajah ke mana-mana. Apa sih yang mereka suka dari berlelah-lelah seperti itu?
Akan tiba waktunya ketika kamu terdiam, tak dapat berkata-kata, ketika segalanya tiba-tiba menghilang dari pikiranmu, yang ada hanyalah rasa syukur yang begitu dalam.

Ketika Allah membuka dan menunjukkan buah dari kesabaran dan ketaatanmu, ketika Allah meletakkan kamu pada posisi yang bahkan kamu pun tak berani memintanya dalam doa.

Akan tiba waktunya. Akan tiba waktunya.