Day #2: Tumbuh dari Luka

Berbicara soal luka, aku sebenarnya tidak yakin apakah aku pernah terluka atau tidak. Aku merasakan sakitnya, tapi aku tidak melihat jelas apakah itu benar-benar luka atau hanya perasaanku saja.

Aku punya sebuah cerita, cerita masa kecilku. Saat itu aku berumur kira-kira 6 tahun, kelas 1 SD. Seigatku peristiwa itu terjadi pada hari minggu. Saat aku dan teman-temanku pergi ke kandang Daghat milik kakekku.

Kami berniat memetik buah manggis. Aku pergi bersama seorang teman perempuan dan 3 orang teman laki-laki. Kami pergi ke sana dengan berjalan kaki. Mereka tau tempat pohon manggis itu, sedangkan aku yang cucu pemiliknya malah tidak tau.

Saat sampai di sana, aku dan teman perempuanku itu menunggu dibawah. Sedangkan yang laki-laki naik ke pohonnya. Beberapa buah manggis sudah mereka kantongi. Dan aku diam-diam saja, mendengar ocehan mereka yang seperti monyet mendapat harta.

Tiba-tiba salah satu anak laki-laki itu berteriak dari atas, "Minggir, aku mau menjatuhkan galahhh.." Sontak aku langsung bergerak, niatku adalah menjauh dari bawah pohon, menghindari galah yang akan dijatuhkan.

Tapi sepertinya langkahku sedikit lambat, ah.. entah langkahku yang lambat, entah anak-anak laki-laki itu yang ngomongnya telat, galah bambu itu jatuh tepat di atas kepalaku.

Kepalaku berdenging, aliran darah mulai merembes mengalir melewati kening, mata dan telinga. Ku lihat mereka semua panik. Aku juga ikut panik. Mereka semua lari, pergi meninggalkan aku sendiri.

Aku ingin ikut lari bersama mereka, tapi mereka tidak mau mengajakku. Mereka ketakutan. Aku juga ikut ketakutan. Aku tak tau harus bagaimana, darah yang keluar sudah banyak sekali, sampai ke baju-baju.

Aku tidak tau harus bagaimana. Aku tidak tau harus kemana. Aku takut pulang karena kepalaku berdarah. Aku takut dimarahi. Lalu aku menangis saja.

Saat itu ada seorang saudara yang mendatangiku. Beliau langsung menggendongku. Tapi aku berontak. Aku tidak mau dibawa pulang. Tidak mau juga dibawa ke dokter. Keduanya sama-sama mengerikan.

Akhirnya aku dibawa pulang. Tak henti-hentinya aku menangis. Dan aku juga dibawa ke dokter. Luka di kepalaku itu akhirnya diobati. Sampai kini bekas luka itu masih ada. Bekas luka itu tidak ditumbuhi rambut lagi.

Dalam hidupku, hanya luka itu saja yang ku ingat. Aku tidak tau apakah aku juga pernah mengalami luka yang lain atau tidak. Kalaupun pernah, tentu tidak ada apa-apanya dibanding lukaku saat itu.

Aku tumbuh menjadi kuat sejak itu. Aku jadi lebih berhati-hati, lebih waspada, tidak mudah percaya pada apapun, dan siapapun. Tidak menggantungkan perasaanku pada orang lain, dan tidak pula menaruh harapan pada orang lain. Aku jadi lebih kritis, tidak mudah diperdaya, tidak mudah ditipu. 

Ya.. hidup memang agak berat karena itu. Kadang-kadang aku memang agak terlalu keras pada diriku. Tapi sekarang aku menerimanya. Karena dengan jalan inilah aku menemukan Allah. Dengan jalan inilah aku mengerti bahwa memang tidak ada tempat bergantung di dunia ini.

Alhamdulillah..