Selasa, 29 Maret 2022

Sekarang jam 8.35 malam. Aku sedang duduk sendirian di atap lantai 3, menghadap menara dan kubah masjid Al-Falaah yang masih dalam bentuk kerangka.

Suara jangkrik mulai terdengar bersahut-sahutan, suasananya sudah malam. Tapi suara anak-anak bermain di blok belakang sana masih riuh terdengar.

Aku baru saja selesai membaca sebuah buku. Buku itu berisi kumpulan cerita. Salah satu kisah yang tadi cukup berkesan adalah tentang model kerudung.

Ceritanya kira-kira seperti ini, ada seorang anak gadis yang bertanya pendapat ayahnya tentang model kerudung yang ingin dia pakai. Ayahnya bilang, "Kerudung itu terlihat bagus, tapi ayah lebih suka model kerudung yang biasa kamu pakai. Yang sholatable, yang tidak usah pakai mukena lagi untuk sholat."

Aku jadi berpikir, iya juga ya? Memakai mukena ketika akan sholat kan budaya orang kita. Aku melihat di internet, mereka orang-orang arab, orang-orang barat, orang-orang Islam di luar sana sepertinya tidak punya mukena. Mereka berpakaian dan berkerudung yang ready to pray, sholatable, menutup aurat dengan sempurna.

Bisa nggak ya aku seperti itu? Berpakaian yang nggak usah cari mukena lagi kalo mau sholat. Sepertinya itu lebih simpel untuk sholat. Tapi, kerudungnya akan sangat panjang. Aku malu memakai kerudung panjang-panjang. Takut dibilang sok alim, takut terlihat aneh, dan risih kalau ada yang memanggilku ukhti-ukhti.