Telah lama aku mengetahui kalau waktuku begitu banyak dihabiskan bersama handphone. Aku bisa menghabiskan waktu total 2-5 jam per hari di dua aplikasi saja, yaitu whatsapp dan youtube. Dan apa yang aku lakukan ini bisa dibilang tidak ada manfaatnya.

Ini pun aku sudah merasa lebih baik karena telah berhenti menggunakan sosial media. Sebelumnya, aku menghabiskan waktu minimal 2 jam /hari untuk scrolling instagram.

Aku juga menghabiskan waktu untuk memakai aplikasi lain, seperti ipusnas, duolingo, dan tumblr. Tapi tiga aplikasi ini lebih mendingan. Karena ada sesuatu yang aku dapat, ada sesuatu yang dipelajari.

Aku memakai aplikasi ipusnas untuk membaca buku-buku secara gratis. Duolingo untuk merawat skill bahasa. Tumblr untuk menuliskan apa yang aku ingin tulis. Aku hanya menulis, aku tidak membaca tulisan orang lain.

Aku mulai resah dengan aplikasi whatsapp, youtube, dan g-podcast. Mereka kadang tak ku gunakan dengan bijak. Aku sering menonton video youtube yang sebenarnya tak masalah jika tidak aku tonton. Video-video yang aku tonton memang bagus dan bermanfaat, tapi tidak semua harus aku tonton.

Aku juga sering sekali mendengar podcast hanya untuk hiburan. Yang sebenarnya, aku tak butuh hiburan sebanyak itu.

Yang paling meresahkan adalah whatsapp. Aku terlampau sering mengintip status orang-orang. Tak jarang aku juga memberikan komentar. Hampir setiap jam rasanya aku otomatis mengecek whatsapp dan membuka status orang-orang.

Kalau dipikir-pikir lagi, aku tak butuh melihat status orang-orang itu, aku tak akan mati tanpa itu. Apa peduliku dengan mereka? Menonton mereka hanya menghabiskan waktu.

Bukankan waktuku ini bisa digunakan untuk belajar dan membuka diri pada pengetahuan? Aku bisa belajar beberapa hal yang bisa memberikan hasil yang berdampak untuk diri sendiri maupun untuk orang lain.

Aku tak perlu sekedar tau kabar si itu dan si anu dengan melihat status mereka. Aku bisa chat atau menelpon mereka langsung jika memang aku merindukan atau membutuhkan mereka.

Seperti yang pernah dituliskan seseorang,

"Ketika tidak digunakan dengan bijak: bukan kita yang menghabiskan waktu, tapi waktulah yang menghabisi kita"