Beberapa waktu belakangan ini aku menulis namamu di beberapa halaman buku harianku. Ku tulis dengan jelas huruf-per-huruf.
Sejak pertama kali menyadari ada namamu di oktober itu, aku selalu menahan diri untuk menulis namamu. Selalu aku tulis dengan kata ganti.
Kamu tau kenapa aku tulis namamu itu jelas-jelas?
Karena aku sedang berusaha melupakanmu. Di Februari ini aku mau berdamai dengan diriku. Aku ingin mengaku bahwa kamu ada. Bahkan kamu sudah di sini selama 16 bulan berturut-turut.
Aku ingin menghentikan hal bodoh ini. Memikirkan kamu yang kamu saja tak pernah terbayang bahwa ada aku yang berpikir tentang kamu sejauh ini. Ya, bodoh dan membuang-buang waktu.
Aku harap dengan jujur dan menulis namamu dengan jelas itu bisa melepaskan rasa ini. Membiarkan rasa ini pergi, terbang, dan menghilang terserah mau kemana.
Kamu tak akan tau, kalau seumur hidupku, selama aku menulis cerita di buku harianku, baru kali ini aku berani menuliskan nama seorang laki-laki, namamu.
huuuh, kamu itu membingungkan. Sebagian diriku sangat senang kepadamu, menganggap kamu adalah sosok paling penting untuk ku.
Sebagian yang lain malah tidak suka dengan adanya kamu. Ini karena kamu membuatku lemah, membuatku penyimpan harapan bahwa kamu yang akan melindungiku. Bukankah kita tidak boleh mengantungkan harapan pada orang lain?
Kamu membuatku tak percaya diri, kamu membuatku malu untuk mengexpose diri pada dunia.
Kadang aku juga mengutuki tindakan bodoh ini. Kenapa bisa aku bersikap seperti ini ketika menyukaimu? Bagaimana bisa sampai aku menyukaimu? Tapi aku tetap bersyukur atasnya. Menyukaimu bukan kehendakku, tak bisa ku kendalikan.
Aku menerima, mengakui, dan membiarkan saja sampai berapa
lama lagi rasa ini bisa bertahan. Dan tak lupa ku ucapkan terima kasih padamu.
Kamu berarti bagiku saat ini.