Aku sedang bertengkar dengan diriku sendiri. Kami berperang, ada yang merah menyala, ada yang biru membatu, dan ada yang tak tau harus berbuat apa.
Ini sangat mengaduk-aduk emosi. Bagaimana caranya aku marah, sekaligus kasihan, sekaligus kecewa, sekaligus sedih, sekaligus jijik, sekaligus harus membela diri sendiri di hadapan diri sendiri yang juga benar untuk menyalahkan diri sendiri.
Tiba-tiba saja aku ingat senyum mata mu di tangga itu, di desember itu. ahh... sial, ini pasti ulah si anak bawang itu! Dia selalu saja meghentikan pertengkaran kami.
Kami harus beretangkar habat, kalau perlu harus ada yang mati, atau minimal dijinakkan, takluk diatas kebenaran. Aku sudah tidak tahan dengan mereka semua yang terus berebut mengendalikan.
Hari ini harus ada yang mati!