Aku berpikir bagaimana jadinya jika suatu hari kamu tau tentang rasa ku untukmu ini?

Mmm sepertinya aku akan malu sekali, dan juga minder. Merasa harga diri ku jatuh bebas, terhempas seperti jatuhnya sebuah cermin dari helikopter. Hancur lebur dan mustahil disatukan kembali. ah, tapi itu terlalu berlebihan, aku tak sepayah itu.

Entahlah... aku berpikir harusnya aku tidak menoleh kepada kamu. Selayaknya aku mencari yang sudah di atas ku, yang lebih tua dari aku, yang bisa membantu menerangi jalan ku.

Dan aku pun berpikir, bahwa kamu tak akan mau mengarahkan pandangan padaku. Kamu lebih layak mencari yang lebih muda darimu, yang bisa kau ayomi, yang membuat kamu memegang kendali penuh atas kalian berdua.

Tapi mau bagaimana? Aku sudah terlanjur melihat kamu. Aku melihatmu seperti melihat orang yang bisa menjadi teman hidup ku. Aku tidak bisa melepaskan pandangan darimu. Setidaknya sejak hampir satu setengah tahun ini.

Dan aku pun, tanpa sadar, mulai menaruh harapan padamu. Entahlah... aku tidak tau. Aku tidak mau mengakuinya, tapi, ya... entahlah, aku tidak tau.

Aku takut sekali jika kamu tau, lalu merasa terganggu. Aku takut kamu akan menjauh. Aku takut kamu tak mau lagi mengobrol atau menyapa ku.

Aku juga khawatir untuk mendapati satu hari saat kamu telah memilih seseorang. Pastilah aku akan kecewa, merasa patah hati (mungkin). Aku akan sedih mungkin,

Tapi... tidak, tidak, aku yakin aku bisa berdamai dengan keadaan jika ternyata suatu hari kamu memilih yang lain. Aku akan ikut bahagia untukmu.

Aku tau, mungkin aku akan patah hati, dan itu wajar saja. Itu adalah resiko. Aku akan menerima. Aku siap mempertanggung jawabkan rasa ini jika ternyata hari buruk itu benar-benar datang. Apa pun yang terjadi, bahkan yang paling tidak enak sekali pun, aku pasti bisa menghadapinya.

Aku ingat pada sebuah kalimat yang mengatakan bahwa, jatuh cinta itu adalah kepada siapa kamu bersedia patah hati. Ya, aku sudah siap patah hati untukmu. Ya... begitulah