Rabu, 2 Juli 2025

Pukul 15.59 wib, aku sedang berada di KRL menuju stasiun Sudimara. Perjalanan masih lumayan lama, aku baru berada di stasiun Depok. Keretanya sepi, hanya ada 12 orang di gerbong ini.

Ada seorang pemuda yang sedang membaca buku di pojok kanan sana sambil terkantuk-kantuk. Sepertinya itu buku mata kuliah. Aku ingin melihat dia sedang membaca buku apa? Tapi aku tidak berani menoleh ke arah sana. 

Aku ingin sedikit berefleksi sore ini. Merenungkan banyak hal, kejadian-kejadian yang sambung-menyambung dalam beberapa waktu belakangan. Aku tidak punya uang saat ini, tapi hatiku tenang. Hanya ada 100 ribu di dompetku, tapi itu sudah cukup.

Aku akan memulai hidup baru dalam beberapa hari ini. Sesuatu yang membuatku begitu bersemangat! Tadi malam aku berkata pada Nunu bahwa aku seperti hidup di dalam mimpi-mimpiku! Nanti aku ceritakan di sini. Pokoknya ini adalah sebuah anugerah, bentuk kebaikan, kasih sayang, dan perhatiannya Allah padaku.

Terima kasih banyak ya Allah, ya Illahi, Rabbi. Engkau baik sekali padaku. Terima kasih Engkau tidak mengabulkan doa-doaku waktu itu. Maafkan aku yang waktu itu cengeng sekali. Apa lagi yang bisa aku lakukan selain menangis? 

Namun sejujurnya, aku tetap percaya pada-Mu. Aku tau kemarin-kemarin itu menyakitkan, dan aku tau Engkau tau. Aku tau Engkau kasihan melihatku yang menangis 5 sampai 7 kali sehari setiap hari. Aku juga tau Engkau memang harus diam dahulu sementara Engkau mempersiapkan segalanya tanpa sepengetahuanku. Terima kasih, segala puji bagi-Mu, Tuhan semesta alam.