Senin, 26 Februari 2024
Sore menjelang magrib, pukul 18.03 wib. Aku duduk sendiri di depan mejaku. Pikiranku melayang ke hari Ahad kemarin saat aku melihatmu sedang mengajar anak-anak remaja itu.
Entah kenapa rasanya kamu terasa begitu asing. Lebih asing daripada orang asing biasa. Aku pun tak tau kenapa sekarang aku selalu berusaha menghindar bertatapan atau berbicara denganmu.
Pagi saat kamu baru datang, aku sedang bertugas di stand dapur berkah. Sebenarnya aku sudah melihat kamu datang dan memarkirkan motor, tapi aku pura-pura tidak melihat. Aku pura-pura sibuk dengan pekerjaan yang sedang aku pegang.
Saat kamu menyapa, aku hanya membalas singkat dan langsung pura-pura sibuk lagi. Hatiku terasa mendadak layu, aku merasa bersalah. Tapi entah demi apa, aku merasa harus sok sibuk. Seperti tidak ada waktu untuk menyapa kamu.
Aku mencuri dengar apa yang kamu sampaikan kepada para remaja itu. Kamu bertanya pada mereka, "Kemana tujuan kita yang sebenarnya?" Aku menjawab di dalam hati, ke surga. Darussalam.
Aku tau memang itu yang kamu maksud. Darussalam. Dan memang benar, itulah yang kamu maksud. Seperti yang dulu kita bicarakan. Karena dulu kita sudah membahas topik ini berkali-kali.
Aku merindukan saat-saat seperti dulu. Saat kita duduk di selasar Aqsyanna, bercerita dan berdiskusi. Tentang banyak hal. Dan kamu selalu pandai sekali menyambungkan segala sesuatu dengan Al-Qur'an dan Islam.
Kamu pasti tidak tau, tapi beberapa bulan ini aku telah berusaha membentuk circle baru. Aku berusaha mengulang momen-momen obrolan santai yang dipenuhi ilmu dan pelajaran seperti yang kita lakukan dulu, bersama orang-orang baru.
Sejauh ini circle itu mulai solid dan benar-benar menyenangkan. Kami melakukan banyak hal seru dan bermanfaat. Tapi belum ada yang menggantikan kamu, sebagai teman bercerita dan berdiskusi yang, ya.. ku sebut, yang seperti kamu. Aku belum menemukan seorang pun yang seperti kamu, mau itu laki-laki ataupun perempuan.
Sejujurnya aku berharap kamu kembali. Tapi entahlah.. rasanya harapan itu akan selalu menjadi sekedar harapan. Sekarang kamu sudah sibuk sekali dengan hidupmu yang baru. Kamu bertemu banyak orang baru yang keren.
Aku akan selalu berharap kamu kembali. Aku selalu dan akan melakukannya selamanya, sampai kamu benar-benar kembali, atau sampai aku bertemu sosok yang seperti kamu. Sosok yang bisa menggantikan kamu.