Jumat, 10 November 2023
52 hari menuju tahun 2024
Saat ini jam menunjukkan pukul 17.43 wib, aku sedang duduk bersandar di pintu kamar. Beberapa hari ini aku selalu merasa tidak aman dan terancam, tapi aku tidak mau membesar-besarkannya. Aku hanya harus selalu bersiap dan berjaga.
Dua minggu lalu usiaku sudah genap 26 tahun. Sejujurnya aku tidak tau bagaimana caranya menjadi manusia berumur 26 tahun yang normal. Ketika menulis ini, dua sisi pikiranku mulai ribut lagi. Di satu sisi aku menyalahkan diri karena tidak mencari tau dan tidak belajar bagaimana caranya menjadi manusia berumur 26 tahun yang normal. Di sisi yang lain aku juga mengasihani diri karena tidak ada yang mengajariku bagaimana caranya menjadi manusia berumur 26 tahun yang normal.
Aku merasa hidupku tidak normal. Penuh kecacatan dan banyak kekurangan. Tapi ya, aku adalah seorang Muslim. Seorang Muslim tidak lemah, seorang Muslim adalah pembelajar, seorang Muslim adalah pejuang, seorang Muslim itu kuat. Seorang Muslim tidak menyerah dan selalu berbenah. Karena seorang Muslim punya Allah yang maha segala-galanya. Bismillah.
Pekan lalu ada yang bertanya padaku kapan aku akan menikah? Ku jawab seadanya seperti yang dipesankan umma, "Kata ibuku, aku menikahnya nanti saja. Ketika usia 27 atau 28." Aku terhenti sejenak dari aktivitas saat menyadari jawabanku sendiri. Tahun depan aku sudah berumur 27. Lalu bertanya di dalam hati, apakah aku sudah harus bersiap-siap dari sekarang?
Sejujurnya aku masih tidak mau menerima bahwa sekarang aku sudah harus mulai berpikir tentang menikah. Sampai saat ini aku masih memandang pernikahan itu berarti tambahan beban, tambahan tugas, tambahan tanggung jawab, tambahan orang-orang. Memikirkannya saja sudah membuatku lelah duluan. Suatu pandangan yang harus segera diperbaiki.
Beberapa tahun lalu aku sempat mengira bahwa dia yang ditakdirkan Allah untukku adalah si RA. Sampai waktu membuktikan bahwa aku salah. Buktinya, aku tidak tau sekarang RA ada di mana, bahkan aku tidak tau apakah dia masih hidup atau sudah terkubur di dalam tanah.
Sekarang pergaulanku hanya sebatas lingkungan Aqsyanna, dan aku masih menginginkan semua penduduk Aqsyanna menjadi sekedar teman. Sulit rasanya membayangkan untuk mencari dia yang ditakdirkan Allah itu di Aqsyanna. Tapi menurutku Aqsyanna adalah lingkungan yang baik untuk menemukan dia, tapi aku tidak bisa melihat siapa-siapa. Sebenarnya ada satu nama yang potensial. Tapi dia terlalu populer untukku yang biasa-biasa saja.
Memikirkan dan menulis yang seperti ini membuatku ingin melarikan diri. Aku tidak mau jadi dewasa. Aku tidak siap. Aku tidak pernah siap. Yaa Allah, yaa Illahi, Rabbi, tentu Engkau paham maksudku yaa Allah. Pilihkanlah aku dia yang membuatku yakin untuk berjalan dan mengemban tanggung jawab bersama yaa Allah.