Senin, 14 Agustus 2023
Dulu ada seorang teman yang bertanya padaku, kenapa aku sering sekali memotret langit? Ku jawab aku tidak tau.
Beberapa bulan lalu, di bawah naungan langit dunia, di atas tanah Aqsyanna, aku dan dua orang teman mengobrol panjang. Ku ingat salah satu bahasan kami adalah tentang langit. Kenapa kita senang sekali melihat ke arah langit?
Aku bercerita tentang langit terang dengan rembulan di padang-padang pasir di Timur Tengah. Aku bilang kalau orang-orang Arab zaman dulu melakukan perjalanan di malam hari sebab pada malam hari udaranya sejuk. Dan cahaya bulan sudah cukup menjadi penerang mereka. Saat purnama bahkan malam hari sama terangnya dengan siang, karena di sana langitnya tidak berawan.
Salah satu temanku itu bilang kalau Rasullullah juga sering memandang langit, karena dengan begitu ketenangan akan mekar di hati kita. Aku mempercayai dia.
Malam ini aku juga melihat langit. Tak ada purnama seperti saat kami mengobrol malam itu. Tapi tetap ku temukan ketengan itu.
Aku tidak ingat, atau mungkin aku tidak tau, siapakah yang telah mengajariku untuk menengadahkan kepala ke atas sana setiap kali suasana hatiku tidak baik. Dan aku bersyukur sekali aku bisa melakukannya dengan bebas, sebab dengan begini aku bisa sejenak melupakan segala hiruk-pikuk urusan manusia di bawah langit ini.