Day #5: Kegagalan Terbaik dalam Hidupku

Berbicara soal kegagalan, dulu aku merasa bahwa hidupku adalah kegagalan itu sendiri. Aku merasa diriku ini produk cacat. Banyak yang salah di dalam diriku, banyak yang tak beres di dalam hidupku.

Ditambah berbagai situasi yang rasa-rasanya sengaja mengucilkan aku. Menganggap aku aneh, mengatakan aku ini dan itu. Ah, pahit sekali rasanya. Belum lagi pertanyaan-pertanyaan dan keluhan-keluhan yang selalu bermunculan di dalam kepala, membuat aku tak kuat. 

Kalau bisa, aku ingin jadi rumput saja, yang kerjanya hanya diam, paling-paling sedikit bergoyang saat diterpa angin. Aku tidak kuat memikirkan semua hal tentang hidupku.

Tapi itu adalah cerita sebelum aku mengenal Islam. Well, sekarang pun sebenarnya aku masih belum terlalu mengenal Islam, ilmuku masih sangat jauh. Tapi aku bersyukur sekali karena cara pandang positifku terhadap hidup mulai tumbuh.

Aku jadi tau apa sebenarnya hidup ini. Aku jadi berusaha mengerti untuk apa aku hadir di sini. Aku mulai memahami mengapa Allah taruh aku di bumi bagian ini. Aku jadi menerima diriku yang seperti ini.

Sebenarnya, kalau kita mau berpikir, kegagalan itu bukanlah hal buruk. Gagal adalah proses hidup, gagal adalah sebuah mata pelajaran. Gagal rasanya memang pahit lagi menyakitkan. Tapi bukankan obat sifatnya juga begitu?