Di penghujung hari minggu, 11 Desember 2022

Sering mendengar kalimat "keluarlah dari zona nyaman, kejarlah mimpimu, bla.. bla.. bla.."?

Aku juga sering mendengarnya. Dan aku tidak terlalu setuju dengan kalimat itu.

Kenapa harus keluar dari zona nyaman? Bukankah dalam hidup ini kita selalu mencari aman dan nyaman? Dulu ku pikir masa ada sih orang yang mau saja untuk meninggalkan kenyamanan yang sudah ada? Buat apa memangnya?

Aku lebih suka dengan ide untuk tetap berada di zona nyaman, lalu pelan-pelan memperluas zona nyaman itu. Aku tidak mau meninggalkan zona nyamanku. Kenapa harus meninggalkan, selama ini aku udah capek-capek membangunnya, enak saja maen tinggalkan aja.

Sebelum menghadapi kejadian hari ini, aku selalu kesal dan ingin marah pada orang-orang yang menggangu zona nyamanku. Aku jadi tidak mau berurusan dengan mereka, ingin meninggalkan mereka, mundur teratur dari lingkaran mereka. Karena aku merasa tidak cocok, merasa this is not me.

Malam ini aku bertemu mereka (lagi). Orang-orang yang kembali menyerang zona nyamanku. Yang membuatku benar-benar harus serius dalam sebuah urusan dalam hidupku. Yang membuatku tidak lagi bisa santai-santai dan sesuka hati meninggalkan. Tidak bisa mundur, tidak bisa kabur.

Aku sangat kesal, tentu saja. Aku kesal karena mendengar kebenaran itu. Aku kesal karena aku harus bertanggung jawab dan take it seriously. Aku kesal karena urusan ini harus dimaknai dengan dalam dan berurusan langsung dengan Tuhan. Aku juga kesal dengan seorang teman yang mengatakan hal itu sampai ke telingaku.

Tapi dalam kekesalan ini, aku tiba-tiba teringat sebuah kisah perjalanan nabi Isa. Kisahnya seperti ini:

Suatu ketika nabi Isa berjalan sendirian di negeri Syam. Saat itu matahari sedang terik-teriknya. Nabi Isa terus berjalan untuk urusan Rabbnya. Di tengah perjalanan yang terik itu, nabi Isa menemukan sebuah gubuk, lalu berniat singgah sebentar untuk beristirahat.

Saat nabi Isa sampai di gubuk itu dan akan duduk di serambinya, tiba-tiba keluarlah nenek pemilik gubuk. Nenek itu langsung marah-marah kepada nabi Isa. Nenek itu tidak menerima kedatangan nabi Isa, dia tidak sudi gubuknya ditumpangi bahkan untuk sebentar saja, bahkan di tengah teriknya sinar matahari.

Lalu apa respon nabi Isa? Nabi Isa bilang "Wahai nenek, bukan engkau yang marah-marah dan berkata-kata kasar kepadaku, bukan engkau yang tidak sudi menolongku dari teriknya matahari ini. Tapi Allah. Allah yang tidak ingin aku beristirahat sekarang, Allah yang mau aku terus berjalan."

Lalu aku berpikir dan membaca tanda-tanda. Apakah ini sama dengan yang sedang terjadi padaku sekarang? Bahwa seorang teman yang berkata itu tadi bukanlah dia yang berbicara, tapi Allah. Allah yang menginginkan aku meninggalkan zona nyaman. Allah yang benar-benar akan melakukan perdagangan denganku, dengan kami? Yaa Rabbi, Illahi, apa ini?

Lalu aku meyakinkan diri sendiri, kalau urusan ini sudah datang padaku, pasti sudah atas persetujuan dan perhitungan Allah. Aku percaya Allah. Allah tidak mungkin salah acc, Allah tidak mungkin salah hitung. Tidak mungkin.