Senin, 21 November 2022
Pertemuan Muslim Generation Summit kemarin berjalan lancar, tidak seburuk yang aku khawatirkan. Aku tetap datang ke Aqsyanna walau sebenarnya aku tidak mengikuti acara itu sama sekali.
Aku merasa senang karena tidak ada yang melarang ku untuk tetap berada di stand sedekah sampah sepanjang acara. Seorang teman bernama kak Fani termakan bujukan ku untuk tidak ikut acara juga.
Bagiku, bertugas di stand sedekah sampah terasa jauh lebih baik daripada harus ikut acara outdoor bersama orang seramai itu. Ya.. aku tau ini tidak bisa dibenarkan, harusnya aku ikut acara, karena ada banyak ilmu yang bisa dipetik di dalamnya.
Ada lagi seorang teman yang juga terlihat betah di stand sedekah sampah. Namanya mas Rizal, mungkin dia juga malas mengikuti acara. Tapi dia lebih mending karena sempat hadir di acara untuk memperkenalkan komunitas kami.
Mengingat nama mas Rizal siang ini membuatku sedikit merasa bersalah karena kemarin ikut-ikutan meledek dia karena sekarang dia botak. Perubahan yang sangat mencolok karena sebelumya dia gondrong. Rambutnya panjang, lebat dan terlihat sehat, sampai aku juga merasa iri melihatnya, aku juga ingin punya rambut seperti itu.
Sesi yang paling menyenangkan pada hari minggu kemarin adalah saat sharing bersama bu Desi. Beliau bercerita tentang kekhawatiran terhadap lingkungan, topik yang menarik bagiku. Diskusi itu juga diselingi topik tentang jodoh yang membuat forum jadi lebih meriah.
Hatiku sempat bergetar di sana entah karena apa. Mungkin karena kekhawatiran ku tentang masa depan lingkungan yang lebih berat ke arah distopia. Mudah-mudahan kekhawatiran ku itu salah. Semoga itu adalah pertanda bahwa masa depan yang baik akan segera kami temui.