Selasa, 15 November 2022

Malam ini aku baru menghasilkan sebuah kesadaran, bahwa aku memang tidak terlalu menyukai keramaian.

Aku sudah memikirkan ini setidaknya sejak 2 bulan lalu, saat aku mengatakan pada kak Ishma, Rifda, dan Hana kalau aku selalu mencari-cari alasan untuk tidak ikut acara-acara keramaian seperti tablig akbar atau pengajian yang pesertanya sampai ratusan orang.

Aku juga bilang kalau dibanding mencari aktivitas di luar, aku lebih suka melakukan sesuatu di rumah. Aku tidak akan pergi keluar kalau tidak dipaksa. Aku hanya keluar kalau sudah mempertimbangkan bahwa aktivitas yang akan ku lakukan itu cukup berarti untuk diperjuangkan.

Tadi sore aku mendapat kabar bahwa kelas micca pekan ini akan berbeda dengan yang biasanya. Akan banyak orang datang dari luar karena ada Moslem Generation Summit, acara gabungan dari berbagai komunitas pemuda muslim.

Aku sudah ngeri membayangkan keramaiannya. Aku takut tenggelam diantara manusia-manusia yang pasti sibuk dengan tangan-tangan dan mulut-mulut mereka itu.

Aku mulai berpikir untuk tidak datang saja. Tapi aku ada peran untuk ikut acara launching Aqsyanna Literacy Club dan juga membantu tim Aqsyanna Less Waste. Tapi kalau dipikir-pikir, semua akan tetap berjalan tanpa aku, mereka akan baik-baik saja. Jadi tidak apa-apa kalau aku tidak datang.

Aduh, sekarang aku ingat bahwa aku sudah berniat melawan rasa takutku, tidak mengizinkan diri untuk terus-menerus berdiam di zona nyaman.

Tapi rasanya akan sangat merugikan bila aku datang lalu aku tak bisa mengendalikan diri. Aku khawatir rasa tidak nyaman itu membuatku jadi orang yang menyebalkan. Lalu melakukan hal bodoh dan mengatakan hal yang menyakitkan kepada teman-temanku.

Aaaa... Bagaimana ini?