Hari minggu lalu, dalam sesi sharing pertemuan micca, aku ditanya oleh mas Alfi sang pembicara, "Apa pengalaman yang sangat mengecewakan bagi Esnida?"

Aku langsung menyelam ke dalam kepalaku, mengingat-ingat pengalaman yang membuatku kecewa. Aku terus mengingat-ingat sambil bergumam "kecewa.. kecewa.. kecewa.." seperti sedang mencari barang yang lupa ku simpan di mana.

Sampai beberapa saat, aku sama sekali tidak menemukan pengalaman yang membuatku kecewa kepada orang lain. Entah karena aku tidak mengingatnya saja atau aku memang tidak pernah kecewa. 

Ketika itu juga mas Alfi sang pembicara berkata seolah membaca pikiranku, "Wah.. nggak pernah kecewa ya? Mau dong tukeran hidup, hidup saya banyak kecewanya.. atau kalo nggak, pengalaman buruk deh.."

Mendengar itu aku langsung menjawab, "Kalau pengalaman buruk, banyak.." Ooh.. tiba-tiba aku menemukan sederet memori pengalaman kecewa di kepalaku, aku langsung berkata, "Ada pengalaman kecewa, tapi ini adalah kecewa pada diri sendiri", bukan karena dikecewakan orang lain.

Mas Alfi: "Terus gimana cara menanganinya?"
Aku: "Cara menanganinya, ya.. belajar.." 
Mas Alfi: "Ooh, yaudah, ini bukunya.." (aku diberi hadiah buku karena ditanya begitu)
Aku: "Loh? Ini udah?"
Mas Alfi: "Iya udah. Saya mau nanya apa lagi kalau jawabannya udah gitu"
Aku: ". . . . ." (Merasa tidak enak karena tidak menjawab sesuai harapan)

Sebenarnya, kalau boleh meneruskan jawaban, akan ku katakan bahwa aku sering sekali kecewa dengan diriku sendiri. Kecewa karena gagal memahami situasi, kecewa karena tak sengaja menyakiti hati orang-orang, kecewa karena tidak belajar dengan tekun, kecewa karena tidak bekerja dengan bersungguh-sungguh, kecewa karena menyia-nyiakan waktu dan kesempatan, kecewa karena tidak menjadi seseorang yang aku harapkan, dan sederet kekecewaan pada diri sendiri lainnya.

Rasa-rasanya aku memang tidak pernah kecewa kepada orang lain. Sejauh ingatan yang bisa ku gali, dari kecil aku tidak pernah menggantungkan perasaanku pada orang lain. Aku merasa harus bertanggung jawab sendiri terhadap semua hal yang aku rasakan.

Dari dulu (mungkin juga sampai sekarang), aku sering merasa rendah, tidak pantas untuk berharap ataupun kecewa kepada orang lain. Karena, 'memangnya aku ini siapa?' 'memangnya aku ini apa dalam hidup mereka?' 'memangnya aku ini sudah melakukan apa untuk mereka?'