Ternyata aku bukan orang yang pintar seperti yang aku yakini dulu. Semua ini bermula saat aku masuk sekolah, saat SD dan SMP aku sering menduduki peringkat 1 di sekolah.
Ketika SMA, aku tak pernah lagi mendapat peringkat 1. Tak juga pernah masuk 3 besar, bahkan 10 besar pun jarang. Ternyata aku tidak begitu pintar.
Aku sadar, ternyata selama SD dan SMP, aku hampir selalu berada di peringkat 1 itu karena aku memiliki perilaku baik, sehingga para guru jadi sayang padaku. Mereka melebihkan nilai-nilaiku, dimark-up. Sehingga jumlah nilaiku menjadi lebih tinggi dari teman-teman yang lain.
Aku sangat kecewa saat menyadari bahwa sebenarnya aku tidak pintar. Aku merasa ditipu, seperti dijatuhkan setelah diterbangkan.
Sejak menyadari hal itu, aku jadi terpuruk. Kepercayaan diriku semakin hari semakin menciut seiring dengan prestasiku di SMA yang juga menciut. Keyakinanku terhadap kegiatan belajar pun ambyar. Aku sedikit tertekan, tak mampu menjembatani jurang kenyataan dan harapan yang selalu melebar setiap waktu. Aku menutupi semua masalah ini, ku pikir semua akan beres segera. Ku pikir aku bisa menyelesaikannya sendiri, tak perlu melibatkan orang, tak usah meminta bantuan. Tapi ternyata jiwa remajaku kala itu belum begitu kuat. Aku malah makin tenggelam di lembah keterpurukan yang semakin dalam. Hal yang juga aku sesali adalah mengapa aku bersembunyi, mengapa aku diam, mengapa tak berteriak saja agar seluruh dunia paham.